Chiki Fawzi Disambut Haru Usai Perjalanan Kemanusiaan ke Gaza

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 21:39 WIB 3
Chiki Fawzi Disambut Haru Usai Perjalanan Kemanusiaan ke Gaza

Chiki Fawzi akhirnya kembali ke Tanah Air dan disambut haru oleh ayahnya, musisi senior Ikang Fawzi, setelah menjalani perjalanan kemanusiaan yang penuh risiko. Kepulangannya menjadi sorotan karena misi tersebut berkaitan dengan upaya menembus blokade Gaza yang berujung pada penangkapan sejumlah rekan delegasi.

Perempuan berusia 37 tahun itu mengaku momen pertemuan dengan sang ayah menjadi pengalaman yang sangat emosional. Ia menceritakan rangkaian perjalanan panjang dari Barcelona hingga Turki, sebelum memantau keberangkatan para relawan Indonesia dari pusat komando di Istanbul.

Perjalanan ke Gaza

Chiki Fawzi menempuh perjalanan kemanusiaan selama berbulan-bulan dan berpindah dari satu etape ke etape berikutnya. Ia memulai rangkaian itu dari Barcelona, lalu bergerak ke Turki untuk melanjutkan koordinasi misi. Menurutnya, setiap tahap perjalanan menuntut kesiapan fisik dan mental yang tinggi.

Di Istanbul, ia bertugas memantau situasi ketika sembilan relawan WNI lain berlayar menuju Gaza. Total delegasi Indonesia dalam misi itu berjumlah 11 orang, termasuk dirinya dan koordinator Uni Maimun. Chiki menegaskan bahwa dirinya berada di pusat komando saat kapal-kapal bantuan bergerak menuju wilayah tujuan.

Ketegangan memuncak ketika kapal bantuan dihadang oleh militer Israel di perairan internasional. Ia menyaksikan langsung perkembangan situasi dari jarak jauh melalui pantauan komunikasi yang tersedia. Peristiwa itu membuat suasana misi berubah drastis dalam waktu singkat.

Kesaksian soal penahanan

Setelah rekan-rekannya dibebaskan, Chiki menerima banyak kesaksian yang menggambarkan kerasnya perlakuan selama masa penahanan. Ia menyebut para relawan mengalami kekerasan fisik dan intimidasi yang berat. Cerita itu memperkuat gambaran bahwa situasi di lapangan jauh lebih buruk dari yang dibayangkan.

Menurut pengakuan yang ia terima, para relawan dipukuli, disetrum, dan diborgol dengan kabel ties yang sangat kencang. Kondisi tersebut bahkan menyebabkan luka pada tangan beberapa korban. Chiki menyebut ada pula jurnalis yang harus mendapat perawatan medis karena mengalami gangguan pada ginjal setelah dipukul berulang kali.

Ia mengaku sempat menemani salah satu jurnalis yang dibawa ke rumah sakit setelah dibebaskan. Pengalaman itu membuatnya semakin memahami risiko besar yang dihadapi para relawan. Bagi Chiki, misi kemanusiaan tersebut bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjuangan yang penuh ancaman.

Reuni dengan sang ayah

Kepulangan Chiki ke Indonesia disambut langsung oleh Ikang Fawzi di bandara. Sang ayah memeluknya erat dan mengucapkan selamat datang dengan kalimat sederhana yang terasa sangat hangat. Momen itu menjadi penutup emosional dari rangkaian perjalanan yang melelahkan.

Chiki mengaku perasaan yang muncul saat itu bercampur aduk. Ia merasa lega karena telah kembali dengan selamat, namun sekaligus masih menyimpan banyak emosi dari pengalaman sebelumnya. Pertemuan dengan ayahnya menjadi simbol dukungan keluarga di tengah situasi yang menegangkan.

Dalam keterangannya di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, ia menyebut pelukan sang ayah sebagai momen yang sangat membekas. Ucapan singkat Ikang Fawzi, menurutnya, cukup untuk membuat dirinya merasa pulang ke rumah. Ia menilai dukungan keluarga sangat penting setelah melewati perjalanan yang penuh tekanan.

Pesan untuk Palestina

Chiki Fawzi menegaskan bahwa rasa takut terhadap ancaman manusia tidak boleh mengalahkan semangat untuk menyuarakan kebenaran. Ia menilai masyarakat perlu membebaskan diri dari ketakutan agar bisa berdiri bersama rakyat Palestina. Pesan itu ia sampaikan sebagai bentuk keberpihakan pada kemanusiaan.

Ia juga membandingkan rasa takutnya terhadap kondisi alam di laut Mediterania dengan ancaman dari pihak militer. Menurutnya, gelombang besar dan risiko kapal miring justru lebih menegangkan, tetapi hal itu tidak membuatnya mundur. Baginya, keberanian dibutuhkan agar solidaritas kemanusiaan tetap berjalan.

Chiki menutup kisahnya dengan penegasan bahwa misi tersebut adalah bagian dari perjuangan yang lebih besar. Ia berharap pengalaman itu dapat membuka mata publik terhadap kondisi yang dialami warga Palestina. Dalam pandangannya, dukungan moral dan suara publik tetap menjadi kekuatan penting dalam isu kemanusiaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!