Chiki Fawzi kembali ke Tanah Air dan disambut haru oleh sang ayah, musisi senior Ikang Fawzi, setelah menjalani rangkaian panjang misi kemanusiaan menuju Gaza. Kepulangan itu menjadi momen emosional karena ia baru saja melewati ketegangan saat sejumlah rekan delegasinya ditahan dalam upaya menembus blokade di perairan internasional.
Di Studio Trans TV, Jalan Kapten P. Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026), Chiki mengisahkan bahwa ayahnya menjemput langsung dan memeluknya erat. Ia menyebut sambutan itu sebagai penutup dari perjalanan yang penuh risiko, sekaligus pengingat bahwa perjuangan untuk Palestina masih jauh dari selesai.
Chiki Fawzi dan misi kemanusiaan
Chiki Fawzi mengatakan perjalanan itu berlangsung selama berbulan-bulan, dengan perpindahan dari Barcelona ke Turki sebelum akhirnya berakhir di pusat komando Istanbul. Dalam fase tersebut, ia tidak ikut berlayar langsung, melainkan bertugas memantau situasi dari darat. Tugas itu membuatnya tetap berada dalam tekanan karena setiap perkembangan di laut harus dipantau secara ketat.
Sementara itu, sembilan relawan WNI lainnya berada di atas kapal yang menuju Gaza. Bersama koordinator mereka, Uni Maimun, total ada 11 orang yang terlibat dalam rangkaian operasi tersebut. Ketika kapal-kapal bantuan itu dihadang militer Israel, situasi langsung berubah menjadi sangat genting.
Chiki menyebut detik-detik intersepsi itu sebagai momen yang paling menegangkan selama misi berlangsung. Ia melihat langsung bagaimana komunikasi terputus dan para relawan di kapal kemudian ditahan. Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan betapa rapuhnya keselamatan para pegiat kemanusiaan di lapangan.
Kesaksian soal perlakuan keras
Setelah para rekan delegasi dibebaskan, Chiki menerima berbagai kesaksian yang menggambarkan perlakuan keras selama masa penahanan. Ia menuturkan bahwa ada relawan yang dipukul, disetrum, dan diborgol dengan kabel ties yang terlalu kencang. Kondisi itu bahkan menyebabkan luka pada tangan sejumlah korban.
Chiki juga menyebut ada seorang jurnalis yang harus ia temani ke rumah sakit setelah dibebaskan. Jurnalis tersebut mengaku mengalami kencing darah akibat pukulan berulang pada bagian ginjal. Kesaksian itu membuat Chiki semakin sadar bahwa risiko misi tersebut bukan hanya soal penahanan, tetapi juga ancaman kekerasan fisik yang serius.
Pengalaman itu, menurut Chiki, menjadi bukti bahwa perjuangan menyuarakan kondisi rakyat Palestina masih menghadapi banyak hambatan. Ia menilai para relawan dan jurnalis bekerja di bawah ancaman yang sangat berat. Namun, ia tetap menegaskan bahwa suara kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena tekanan dari pihak tertentu.
Ketakutan diganti keberanian
Di tengah cerita panjang itu, Chiki mengaku dirinya justru lebih takut pada bahaya alam dibanding ancaman manusia. Ia menyebut kondisi laut Mediterania sangat ekstrem, bahkan kapal bisa miring hingga para relawan harus mengikat diri dengan karabiner agar tidak jatuh. Baginya, risiko alam di laut terasa lebih nyata saat perjalanan berlangsung.
Meski demikian, Chiki menegaskan bahwa rasa takut terhadap militer tidak boleh mengalahkan tekad untuk menyuarakan kebenaran. Ia menilai penting bagi setiap orang untuk membebaskan pikiran dari rasa takut terhadap Israel jika ingin terus membela warga Palestina. Sikap itu, menurutnya, menjadi bagian dari keberanian moral dalam misi kemanusiaan.
Ia juga menekankan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar di depan kamera. Bagi Chiki, keberanian justru terlihat saat seseorang tetap berdiri untuk nilai kemanusiaan, meski menghadapi ancaman. Karena itu, pengalaman ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup dan advokasinya.
Sambutan ayah yang menguatkan
Kepulangan Chiki ke Indonesia ditandai dengan pelukan erat dari Ikang Fawzi yang menjemput langsung kedatangannya. Sang ayah hanya sempat berkata, "Welcome home, Ade", sebelum memeluk putrinya dengan hangat. Momen singkat itu membuat Chiki merasakan campuran lega, haru, dan lelah yang sulit dijelaskan.
Menurut Chiki, sambutan tersebut terasa sangat berarti setelah berbulan-bulan berada dalam situasi penuh tekanan. Ia merasa kehadiran keluarga menjadi penopang utama untuk kembali pulih secara emosional. Di saat yang sama, kepulangannya juga menegaskan bahwa perjuangan kemanusiaan kerap meninggalkan bekas yang dalam bagi para relawan.
Meski sudah kembali ke rumah, Chiki menyatakan perjalanannya belum benar-benar berakhir karena isu kemanusiaan di Palestina masih terus berlanjut. Ia berharap pengalaman ini dapat membuka mata publik terhadap kondisi yang dialami para aktivis dan warga sipil di lapangan. Dengan demikian, kisah kepulangannya menjadi bukan hanya cerita pribadi, tetapi juga pengingat akan pentingnya solidaritas kemanusiaan.
