Calvin Dores, anak penyanyi dan pencipta lagu legendaris Deddy Dores, menjadi sorotan setelah pengakuannya soal keinginan menjual bola mata demi bertahan hidup viral di media sosial. Pernyataan itu ia sampaikan sebagai bentuk keputusasaan menghadapi tekanan ekonomi keluarga, termasuk kebutuhan ibu dan anak-anaknya.
Dalam keterangannya, Calvin mengaku tidak menyangka ucapannya akan ramai dibicarakan publik. Ia menegaskan, kegelisahan itu muncul karena kondisi hidup yang berat, sementara ia tetap berupaya mencari nafkah lewat berbagai cara.
Pengakuan Calvin Dores
Calvin Dores menyebut ucapannya soal menjual mata bukan untuk mencari sensasi. Ia mengatakan, pernyataan itu lahir dari kondisi hidup yang sedang ia hadapi. Menurut dia, fokus utamanya adalah keluarga yang harus tetap ditopang.
Ia menjelaskan, keinginannya muncul karena ingin membantu ibu dan anak-anaknya. Calvin menilai, beban hidup yang ia rasakan saat ini sudah berada pada titik yang sangat berat. Karena itu, ia memilih berkata jujur tentang kesulitannya.
Calvin juga mengaku tidak menyangka pengakuannya akan menjadi viral. Ia menilai respons publik begitu besar karena topik yang dibicarakannya sangat ekstrem. Meski demikian, ia tetap menganggap pengakuan itu sebagai bagian dari curahan hati.
Dalam penjelasannya, Calvin menekankan bahwa dirinya masih berusaha tegar menghadapi masalah. Ia tidak ingin dianggap mencari perhatian semata. Baginya, kondisi itu adalah kenyataan yang sedang dijalani bersama keluarga.
Kesulitan Mencari Kerja
Calvin bercerita bahwa salah satu tantangan terberatnya adalah mencari pekerjaan tetap. Ia menyebut syarat ijazah kerap menjadi penghalang ketika melamar kerja. Kondisi itu membuat peluangnya untuk bekerja di perusahaan semakin sempit.
Ia menepis anggapan warganet yang menilai dirinya malas bekerja. Menurut Calvin, dirinya justru sudah mencoba berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup. Ia merasa penilaian publik sering kali tidak melihat situasi yang sebenarnya.
Selama beberapa waktu terakhir, Calvin mengaku sempat bekerja serabutan. Ia pernah menjadi sopir, mengantar mobil gereja, hingga menjemput anak sekolah. Pekerjaan itu dijalani tanpa penghasilan tetap bulanan.
Calvin juga menceritakan pengalamannya melamar kerja ke sebuah perusahaan. Saat itu, ia sudah mendapat peluang melalui teman yang menjadi sopir di sana. Namun, syarat pendidikan kembali membuat prosesnya mentok.
Musik Jadi Penopang
Meski kesulitan ekonomi menghimpit, Calvin menegaskan dirinya masih aktif bermusik. Ia mengatakan, dunia musik tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. Namun, situasi yang berat membuat sebagian karyanya harus dilepas.
Calvin mengaku pernah menjual beberapa karya, baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri. Harga yang didapat jauh di bawah harapan, tetapi ia memilih menerimanya. Baginya, yang terpenting saat itu adalah bisa terus bertahan hidup.
Ia menilai keputusan tersebut bukan hal mudah. Sebab, karya musik adalah hasil kerja keras yang memiliki nilai emosional. Namun, kebutuhan keluarga membuatnya harus mengambil langkah yang paling realistis.
Calvin menambahkan bahwa dirinya belum menyerah pada musik. Ia masih ingin berkarya jika keadaan memungkinkan. Harapannya, musik bisa kembali menjadi sumber penghidupan yang lebih layak.
Beban Keluarga dan Harapan
Calvin mengaku pernah menahan lapar karena kondisi ekonomi yang sulit. Ia mencoba menyikapi keadaan itu dengan santai agar tidak terlalu terbebani. Bahkan, ia sempat menyamakan kebiasaannya dengan intermittent fasting.
Namun, yang paling membuatnya sedih adalah ketika anak-anaknya ikut merasakan lapar. Ia menyebut, terkadang lauk untuk makan tidak tersedia di rumah. Dalam kondisi seperti itu, telur saja sudah dianggap sebagai rezeki yang patut disyukuri.
Menurut Calvin, sebagai ayah, ia tidak ingin anak-anaknya menjalani hidup sesulit dirinya. Ia berharap anak-anaknya kelak punya kondisi yang lebih baik. Keinginan itu menjadi dorongan utama dalam perjuangannya mencari nafkah.
Di tengah tekanan hidup, Calvin tetap berharap ada jalan keluar yang lebih baik. Ia ingin bisa bekerja secara layak tanpa terbentur syarat yang membuatnya sulit maju. Harapan terbesarnya adalah menjaga keluarga tetap bertahan dan hidup lebih tenang.
