Calvin Dores Buka Suara Soal Niat Jual Kornea Mata

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 19:44 WIB 2
Calvin Dores Buka Suara Soal Niat Jual Kornea Mata

Calvin Dores, putra mendiang musisi Deddy Dores, angkat bicara usai menuai respons negatif dari warganet terkait niatnya menjual kornea mata senilai Rp350 juta. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak lahir dari sikap malas, melainkan dari tekanan ekonomi yang sedang ia hadapi di Tangerang Selatan, Banten.

Dalam keterangannya, Calvin menjelaskan bahwa dirinya selama ini tetap berusaha mencari nafkah melalui berbagai pekerjaan berbasis jasa. Namun, penghasilannya tidak menentu, sementara dalam tiga bulan terakhir ia mengaku tidak memiliki pemasukan sama sekali.

Calvin Dores Soal Tekanan Ekonomi

Calvin menyebut dirinya bukan pekerja kantoran yang menerima gaji bulanan. Ia bekerja sebagai self-employed, sehingga pendapatan baru diterima setelah proyek selesai dikerjakan. Kondisi itu membuat penghasilannya sangat bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.

Ia menilai komentar yang menyebut dirinya malas tidak sesuai dengan kenyataan. Menurut dia, selama ini ia tetap berusaha bekerja di berbagai bidang demi mencukupi kebutuhan keluarga. Karena itu, ia meminta publik melihat situasinya secara utuh sebelum memberi penilaian.

Calvin juga mengungkapkan bahwa ia pernah menjajal sejumlah pekerjaan, mulai dari menciptakan lagu, menjadi calo motor, hingga joki game online. Semua dilakukan untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Ia mengatakan, upaya tersebut menunjukkan bahwa dirinya tidak tinggal diam.

Meski demikian, ia mengakui kondisi finansialnya sedang berada di titik terendah. Dalam tiga bulan terakhir, ia menyebut tidak ada pemasukan yang masuk ke kantongnya. Situasi itu membuat beban hidup terasa semakin berat.

Pekerjaan Lepas yang Tidak Pasti

Calvin menjelaskan bahwa pekerjaan lepas memiliki karakter yang tidak stabil. Kadang penghasilannya bisa lebih besar dari gaji manajer, namun pada waktu lain sama sekali tidak ada pemasukan. Pola itu, kata dia, membuat kehidupan ekonominya sulit diprediksi.

Ia menuturkan bahwa sistem kerja berbasis proyek memang menuntut kemampuan bertahan yang kuat. Jika ada proyek, pendapatan bisa datang dalam jumlah besar. Sebaliknya, ketika tidak ada proyek, ia harus menanggung kebutuhan tanpa pegangan pasti.

Kondisi itu turut memengaruhi pandangannya terhadap masa depan keluarga. Calvin mengaku ingin memiliki sumber penghasilan yang lebih stabil agar istri dan anaknya bisa hidup lebih tenang. Karena itu, ia mulai memikirkan usaha yang dapat berjalan jangka panjang.

Ia menilai banyak orang belum memahami tekanan yang dihadapi pekerja lepas. Di mata sebagian publik, tidak adanya gaji tetap sering dianggap sebagai pilihan santai. Padahal, menurut dia, risiko ketidakpastian justru jauh lebih besar.

Kendala Pendidikan Jadi Penghalang

Selain masalah ekonomi, Calvin juga menghadapi hambatan lain saat mencoba melamar pekerjaan. Ia menyebut latar belakang pendidikan menjadi kendala utama karena dirinya hanya memiliki ijazah sekolah dasar. Hal itu membuat banyak lowongan formal tertutup untuknya.

Calvin mengatakan sempat mencoba melamar ke berbagai instansi. Namun, ia kerap gagal karena tidak memenuhi syarat pendidikan minimal. Dalam pandangannya, situasi ini membuat kesempatan kerja semakin sempit.

Ia bahkan menyinggung bahwa dirinya pernah ditawari pekerjaan di instansi negara, termasuk sebagai sopir pribadi dengan gaji UMR dan pegawai honorer. Akan tetapi, peluang itu tetap tidak bisa ia ambil karena persoalan administrasi pendidikan. Kondisi tersebut membuatnya semakin sulit keluar dari tekanan ekonomi.

Meski begitu, Calvin menegaskan bahwa ia tetap ingin bekerja secara layak. Ia tidak ingin dipandang hanya dari satu tindakan yang memicu kontroversi. Baginya, perjuangan mencari nafkah tetap menjadi prioritas utama.

Harapan Calvin Dores ke Depan

Di tengah komentar miring, Calvin memilih tidak terlalu larut dalam penilaian negatif. Ia mengaku lebih fokus pada tanggung jawab terhadap keluarga, termasuk kondisi kesehatan ibunya yang sedang diobati. Situasi itu membuatnya ingin tetap kuat dan tidak mudah menyerah.

Calvin juga mengungkapkan impian untuk membangun usaha sendiri, salah satunya bisnis laundry. Ia berharap usaha tersebut bisa memberi pendapatan yang lebih stabil. Dengan begitu, kebutuhan keluarga dapat dipenuhi tanpa harus bergantung pada pekerjaan serabutan.

Ia menyebut bahwa keinginannya bukan sekadar mencari uang, melainkan menciptakan peluang kerja bagi orang lain. Calvin ingin memiliki usaha yang bisa membuka lapangan kerja untuk teman-temannya. Cita-cita itu, menurut dia, menjadi alasan mengapa ia terus bergerak.

Walau belum mengungkap detail rencana bisnis yang ia siapkan, Calvin memastikan dirinya tetap punya tujuan jangka panjang. Ia ingin membangun sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Di tengah tekanan hidup, harapan itu menjadi pegangan utamanya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!