Calvin Dores Bantah Tuduhan Pemalas di Tengah Krisis Finansial

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 29 Mei 2026 00:08 WIB 2
Calvin Dores Bantah Tuduhan Pemalas di Tengah Krisis Finansial

Calvin Dores, putra mendiang musisi Deddy Dores, angkat bicara setelah niatnya menjual kornea mata senilai Rp350 juta memicu komentar negatif dari warganet. Ia membantah keras tudingan yang menyebut dirinya malas dan mencari jalan pintas tanpa bekerja secara layak.

Pria yang kini tinggal di Tangerang Selatan itu menegaskan, selama ini ia tetap berusaha mencari nafkah lewat berbagai bidang jasa. Namun, penghasilannya kerap tidak menentu karena bekerja sebagai pekerja lepas tanpa gaji tetap setiap bulan.

Calvin Dores dan kerja lepas

Calvin menjelaskan bahwa dirinya bukan karyawan, melainkan pekerja lepas yang dibayar berdasarkan proyek. Karena itu, pemasukan yang diterimanya sangat bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.

Ia menyebut profesinya berada di bidang jasa, sehingga pembayaran baru diterima setelah pekerjaan selesai. Pola kerja seperti ini membuat pendapatannya tidak bisa dipastikan dari bulan ke bulan.

Menurut Calvin, kondisi tersebut sering membuat orang salah paham terhadap dirinya. Ia menilai penilaian dari luar tidak selalu memahami situasi yang sedang dihadapinya.

Meski demikian, ia memilih tetap fokus pada upaya mencari penghasilan secara mandiri. Baginya, bekerja dengan cara apa pun yang halal tetap menjadi prioritas utama.

Penghasilan yang tak menentu

Calvin mengaku pernah menjalani beragam pekerjaan untuk menyambung hidup. Ia menyebut pernah membuat lagu, menjadi calo motor, hingga menjadi joki gim daring.

Namun, kondisi finansialnya kini sedang berada di titik terendah. Ia bahkan mengatakan tidak memiliki pemasukan sama sekali selama tiga bulan terakhir.

Situasi itu membuat dirinya harus berpikir keras untuk bertahan. Di saat pengeluaran terus berjalan, sumber pemasukan justru belum bisa diandalkan.

Calvin menegaskan bahwa saat penghasilan ada, jumlahnya bisa sangat besar. Namun ketika tidak ada proyek, ia benar-benar tidak menerima uang sama sekali.

Kendala ijazah rendah

Selain persoalan pekerjaan lepas, Calvin juga menghadapi kendala pendidikan formal. Ia mengaku hanya memiliki ijazah sekolah dasar.

Karena itu, ia sempat mencoba melamar ke berbagai instansi untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Sayangnya, hampir semua peluang yang datang terbentur syarat pendidikan.

Ia menuturkan bahwa tawaran kerja pernah ada, termasuk sebagai sopir pribadi dan pegawai honorer. Akan tetapi, keterbatasan ijazah membuat langkahnya sering terhenti di awal.

Calvin menilai kritik dari warganet seharusnya diiringi dengan solusi. Menurut dia, lebih baik membantu mencarikan pekerjaan daripada sekadar memberi penilaian negatif.

Mimpi bangun usaha sendiri

Di tengah tekanan ekonomi, Calvin tetap menyimpan harapan untuk masa depan keluarganya. Ia ingin membangun usaha yang stabil agar kehidupan anak dan istrinya lebih terjamin.

Salah satu impiannya adalah memiliki bisnis laundry. Ia menilai usaha tersebut bisa menjadi sumber penghasilan yang lebih pasti dibanding pekerjaan serabutan.

Calvin juga berharap usahanya kelak dapat membuka lapangan kerja bagi orang lain. Baginya, keberhasilan tidak hanya soal memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga memberi manfaat bagi sekitar.

Meski sedang menghadapi cobaan berat, ia memilih tidak terlalu memikirkan komentar miring. Fokus utamanya tetap bertahan, bekerja, dan mewujudkan rencana yang sudah lama ia simpan.

Fokus pada keluarga dan kesehatan

Selain persoalan ekonomi, Calvin juga sedang berjuang mengurus kesehatan ibundanya yang mengidap penyakit jantung. Kondisi itu menambah beban emosional di tengah kesulitannya mencari nafkah.

Ia mengaku situasi keluarga membuatnya harus tetap kuat. Dalam keadaan seperti ini, ia menilai ketenangan dan ketahanan mental sangat dibutuhkan.

Calvin berusaha menjaga semangat agar tidak terpuruk lebih dalam. Ia ingin memastikan keluarganya tetap memiliki harapan di masa mendatang.

Di tengah sorotan publik, Calvin berharap masyarakat melihat perjuangannya secara utuh. Ia ingin dinilai dari upaya yang telah dilakukan, bukan hanya dari satu isu yang sempat viral.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!