BRIN Jajaki Kolaborasi Satelit LEO dengan Telkomsat

Teknologi Moh. Royhan Nahado 29 Mei 2026 20:52 WIB 5
BRIN Jajaki Kolaborasi Satelit LEO dengan Telkomsat

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit atau LEO. Langkah ini diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan terintegrasi. Peluang kerja sama itu disampaikan Pelaksana Harian Kepala PRTS BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, beberapa waktu lalu.

Kolaborasi yang dibahas mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga sinergi dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri. BRIN menilai Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi, penguatan infrastruktur, dan integrasi data satelit nasional. Selain itu, peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System, VDES, juga membuka ruang kerja sama baru.

Kolaborasi Satelit dan Teknologi

Chusnul Tri Judianto mengatakan BRIN tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi. Pengembangan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kapabilitas satelit nasional di bidang observasi bumi. Ke depan, riset juga akan diarahkan pada satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR, serta satelit komunikasi.

Menurut Chusnul, kerja sama dengan Telkomsat dapat mempercepat pemanfaatan hasil riset agar lebih dekat dengan kebutuhan industri. Sinergi itu juga dinilai penting untuk mendorong hilirisasi teknologi satelit di dalam negeri. Dengan begitu, hasil pengembangan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat memberi manfaat operasional yang nyata.

BRIN memandang kolaborasi lintas lembaga sebagai kunci untuk memperkuat kemandirian teknologi satelit nasional. Dukungan dari pelaku industri seperti Telkomsat dinilai dapat memperluas jangkauan implementasi riset. Hal itu sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan teknologi antariksa.

Operasional Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda PRTS BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki tantangan operasional yang cukup kompleks. Satelit jenis ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut menuntut sistem operasi yang dinamis, responsif, dan terintegrasi.

Satriya menyebut manajemen misi menjadi bagian penting dalam pengoperasian satelit LEO. Proses ini mencakup penentuan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaat satelit optimal. Tanpa pengelolaan yang presisi, kinerja satelit berisiko tidak efisien.

Pengendalian orbit juga menjadi aspek vital untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalur yang tepat. Koreksi orbit dilakukan secara berkala sekaligus dengan antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Langkah ini diperlukan untuk menjaga keselamatan satelit dan keberlanjutan misi.

Komunikasi dan Pemantauan

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi menghadapi tantangan karena berlangsung dalam waktu yang terbatas. Karena itu, diperlukan perencanaan yang presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi faktor penentu kelancaran operasi.

Satriya menambahkan bahwa operator satelit harus memantau kesehatan satelit secara real time. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama. Jika ada gangguan, respons cepat menjadi kunci untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Sistem pemantauan yang baik memungkinkan operator mengambil keputusan dengan lebih akurat. Data telemetri membantu tim teknis melihat kondisi satelit secara menyeluruh dari waktu ke waktu. Dengan demikian, risiko gangguan dapat ditekan dan umur operasional satelit dapat diperpanjang.

Perangkat Lunak Satelit

Satriya menegaskan bahwa pengembangan perangkat lunak merupakan fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak berperan dalam perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah. Tanpa sistem yang andal, pengoperasian satelit akan sulit berjalan efektif.

Ia menilai kemampuan mengembangkan perangkat lunak sendiri penting untuk menjaga kemandirian teknologi nasional. Ketergantungan pada solusi luar negeri dapat dikurangi jika sumber daya dalam negeri terus diperkuat. Karena itu, penguasaan teknologi perangkat lunak menjadi bagian dari strategi jangka panjang BRIN.

Kolaborasi dengan industri seperti Telkomsat diharapkan dapat memperkuat ekosistem inovasi satelit Indonesia. Sinergi riset, infrastruktur, dan pengembangan teknologi diyakini mampu mempercepat lahirnya solusi yang lebih kompetitif. BRIN menilai langkah ini penting untuk mendukung masa depan industri satelit nasional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!