BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 25 Mei 2026 00:49 WIB 4
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit (LEO). Pembahasan itu berlangsung saat kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, dan menyoroti penguatan ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, serta berdaya saing.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyebut kerja sama dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kemitraan dengan pihak dalam dan luar negeri. Di sisi lain, BRIN juga tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation (NEO-1) dan menyiapkan riset satelit berbasis Synthetic Aperture Radar (SAR) serta satelit komunikasi.

Kolaborasi satelit BRIN dan Telkomsat

Chusnul menilai Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi satelit nasional. Peran itu dinilai penting untuk memperkuat infrastruktur sekaligus mengintegrasikan data satelit dari berbagai sumber. Kerja sama tersebut juga diharapkan membuka jalan bagi pemanfaatan teknologi yang lebih luas di sektor antariksa.

Menurutnya, sinergi antara lembaga riset dan industri menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium. BRIN membutuhkan mitra yang mampu membantu membawa hasil riset ke tahap implementasi. Dengan demikian, manfaat teknologi dapat dirasakan lebih cepat oleh pemerintah, industri, dan masyarakat.

Selain hilirisasi, Chusnul menekankan pentingnya penguatan kapasitas nasional melalui transfer pengetahuan. Kolaborasi yang dibangun tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada kesiapan ekosistem pendukungnya. Hal ini mencakup pengembangan talenta, sistem kerja, serta model bisnis yang berkelanjutan.

Penguatan teknologi dan hilirisasi

BRIN saat ini mengembangkan satelit optik NEO-1 untuk menghasilkan citra beresolusi tinggi. Data dari satelit tersebut diharapkan mendukung pemetaan, pengawasan wilayah, dan berbagai kebutuhan berbasis observasi bumi. Ke depan, arah riset juga diarahkan pada satelit SAR yang mampu bekerja dalam berbagai kondisi cuaca.

Selain pengembangan satelit pengamatan, BRIN juga menyiapkan riset satelit komunikasi untuk memperluas manfaat teknologi nasional. Satriya Utama menjelaskan bahwa pengembangan ini membutuhkan dukungan industri yang memahami kebutuhan operasional. Telkomsat dinilai relevan karena memiliki pengalaman dalam layanan komunikasi berbasis satelit.

Dalam kesempatan itu, peralihan teknologi dari Automatic Identification System (AIS) menuju VHF Data Exchange System (VDES) turut dibahas sebagai peluang kerja sama baru. Transisi ini dipandang penting untuk mendukung layanan maritim yang lebih modern dan efisien. BRIN menilai kebutuhan integrasi teknologi seperti ini semakin mendesak di tengah perkembangan industri antariksa.

Tantangan operasional satelit LEO

Satriya menjelaskan bahwa satelit LEO bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit. Kondisi tersebut membuat sistem operasional harus dirancang dinamis, responsif, dan terintegrasi. Tanpa pengelolaan yang presisi, kinerja satelit dapat terganggu dalam waktu singkat.

Ia menuturkan, manajemen misi mencakup perencanaan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaatnya optimal. Setiap tahapan harus disusun secara cermat karena waktu operasional satelit sangat terbatas. Karena itu, sistem kendali membutuhkan koordinasi yang disiplin dan berlapis.

Pengendalian orbit juga menjadi bagian penting untuk menjaga satelit tetap berada pada jalurnya. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala dan antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa. Pada operasi satelit modern, keselamatan aset menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.

Perangkat lunak dan kemandirian

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan perencanaan presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink yang efisien. Dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga menjadi syarat utama agar data dapat diterima tepat waktu.

Selain itu, operator satelit harus memantau kesehatan satelit secara waktu nyata atau real time. Pemantauan mencakup daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama agar gangguan bisa segera ditangani. Sistem ini penting untuk menjaga keberlangsungan operasi dan meminimalkan risiko kerusakan.

Satriya menambahkan bahwa perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak mencakup perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah yang saling terhubung. Penguatan kemampuan ini dinilai penting untuk mendukung kemandirian teknologi dan mengurangi ketergantungan pada solusi luar negeri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!