Brand Fashion Muslim Soroti Beban Marketplace bagi UMKM

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 07:38 WIB 2
Brand Fashion Muslim Soroti Beban Marketplace bagi UMKM

Beban biaya di marketplace dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal, termasuk brand fashion muslim Vanilla Hijab. Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyebut kebijakan sepihak platform telah menggerus margin keuntungan penjual kecil dan mengancam keberlanjutan usaha UMKM.

Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Atina menilai kenaikan biaya layanan, promo yang dibebankan kepada seller, dan tekanan harga bahan baku membuat ruang gerak pelaku usaha semakin sempit. Kondisi ini memaksa Vanilla Hijab mencari cara bertahan, mulai dari penyesuaian harga hingga inovasi produk.

Tekanan Marketplace bagi UMKM

Atina menjelaskan, biaya layanan di marketplace terus naik tanpa proses yang dinilai cukup transparan. Menurut dia, beban itu langsung dipikul penjual, sementara pasar sulit menerima kenaikan harga jual.

Ia menambahkan, seller juga kerap harus menanggung program promosi yang aktif secara otomatis. Situasi tersebut membuat pelaku usaha kesulitan menghitung margin secara akurat.

Di saat yang sama, biaya bahan baku turut mengalami kenaikan. Kombinasi faktor itu membuat banyak UMKM menghadapi tekanan berlapis dalam menjaga arus kas.

Vanilla Hijab menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian karena tidak hanya dirasakan satu merek. Banyak penjual lokal lain, menurut Atina, kemungkinan menghadapi persoalan serupa di berbagai platform digital.

Strategi Bertahan Penjual Lokal

Untuk menjaga bisnis tetap berjalan, Vanilla Hijab memilih menaikkan harga secara bertahap. Contohnya, harga produk dinaikkan perlahan dari sekitar Rp80.000 menjadi Rp95.000 agar konsumen tidak kaget.

Langkah itu diambil sambil mengerem volume produksi massal. Perusahaan juga memantau respons pasar sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Atina menegaskan, perusahaan tidak ingin sekadar memangkas harga karena hal itu berisiko merusak kesehatan bisnis. Menurut dia, persaingan dengan produk impor putih label membuat pelaku lokal harus lebih cermat menyusun strategi.

Karena itu, Vanilla Hijab menempatkan inovasi sebagai fokus utama. Perusahaan berupaya menjaga daya saing tanpa mengorbankan nilai produk di mata konsumen.

Inovasi Jadi Pembeda Produk

Vanilla Hijab mengembangkan produk yang memberi nilai tambah lebih tinggi kepada pembeli. Salah satunya melalui hijab instan dengan magnet yang tidak perlu lagi menggunakan pentul.

Perusahaan juga mengubah kemasan menjadi lebih ramah pakai ulang. Menurut Atina, langkah kecil seperti itu dapat meningkatkan persepsi nilai meski harga produk sedikit naik.

Ia menyebut konsumen kini semakin memperhatikan manfaat tambahan dari sebuah produk. Karena itu, inovasi dipilih sebagai jalan untuk mempertahankan loyalitas pembeli.

Meski bekerja sama dengan produsen tekstil lokal, Atina mengakui sebagian bahan baku di Indonesia masih bergantung pada jalur impor. Kondisi ini membuat pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi produksi dengan lebih hati-hati.

Harapan pada Regulasi Digital

Atina menilai pemerintah perlu hadir lebih konkret dalam melindungi ekosistem digital. Menurut dia, UMKM yang menyumbang sekitar 60 persen ekonomi nasional membutuhkan regulasi yang adil, bukan hanya perhatian pada isu makro ekonomi.

Ia juga menyoroti lemahnya perlindungan penjual terhadap praktik penipuan berbasis retur barang. Meski Vanilla Hijab belum mengalami kerugian besar dari kasus itu, dia mengaku prihatin terhadap banyak seller lain yang dirugikan.

Selain itu, Atina mengkritik fitur yang kerap aktif otomatis, termasuk gratis ongkir, Live Extra, hingga biaya paylater yang dibebankan ke seller. Ia meminta pelaku usaha rajin memeriksa laporan keuangan agar tidak terbebani biaya yang tidak disadari.

Menurutnya, sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan penjual. Karena itu, pemerintah diharapkan menertibkan kebijakan internal marketplace agar industri kreatif nasional tetap tumbuh sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!