Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah bank sentral menaikkan BI Rate. Penguatan tersebut diperkirakan mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026, seiring meredanya tekanan musiman dan langkah stabilisasi di pasar keuangan. Bank Indonesia menilai kebijakan suku bunga yang lebih tinggi diperlukan untuk menjaga ketahanan rupiah di tengah gejolak global.
Dalam keputusan terbarunya, BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Suku bunga Deposit Facility turut naik menjadi 4,25 persen, sedangkan Lending Facility ditetapkan sebesar 6 persen. Perry menyebut langkah itu diambil untuk merespons tekanan eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi domestik.
Rupiah dan tekanan global
Perry menjelaskan, secara fundamental rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi sentimen global yang belum kondusif dan menekan hampir seluruh mata uang dunia. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang terdampak oleh perubahan arus modal internasional.
Tekanan global datang dari kebijakan tarif, konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta arah suku bunga global yang tetap ketat. Amerika Serikat menjadi faktor penting karena kebijakan moneternya masih mendorong penguatan dolar. Dalam situasi seperti ini, nilai tukar negara berkembang cenderung lebih rentan terhadap pelemahan.
Perry menyebut harga minyak yang tinggi, pertumbuhan global yang melambat, dan inflasi yang meningkat ikut menambah tekanan terhadap pasar валютa. Di saat yang sama, imbal hasil surat utang Amerika Serikat juga meningkat, sehingga investor lebih memilih aset dolar. Kombinasi faktor tersebut membuat banyak mata uang mengalami tekanan serupa.
Ia menegaskan, kondisi pelemahan rupiah bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di banyak negara lain. Karena itu, menurut BI, penanganan risiko eksternal perlu dilakukan secara hati-hati dan terukur. Stabilitas nilai tukar menjadi kunci agar sektor riil dan pasar keuangan tetap terjaga.
Tekanan domestik rupiah
Dari sisi domestik, rupiah juga melemah akibat tingginya kebutuhan valuta asing yang bersifat musiman pada April hingga Juni. Permintaan valas itu banyak berasal dari kebutuhan ibadah haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan. Faktor musiman ini membuat permintaan dolar meningkat dalam waktu yang relatif bersamaan.
Perry mengatakan, tingginya kebutuhan valas domestik terjadi bersamaan dengan capital outflow yang dipicu kondisi global. Arus keluar modal asing tersebut menambah tekanan pada pasar keuangan dalam negeri. Akibatnya, rupiah menghadapi tekanan ganda dari sisi eksternal dan internal.
Menurut BI, pola tekanan seperti itu biasanya terjadi pada periode tertentu dan tidak berlangsung sepanjang tahun. Karena itu, bank sentral menilai kondisi pasar masih dapat dikelola dengan kebijakan yang tepat. Penguatan rupiah pun diyakini berpeluang muncul ketika kebutuhan valas musiman mulai mereda.
Perry menambahkan, pola historis menunjukkan rupiah kerap berada di bawah tekanan pada April, Mei, dan Juni. Setelah itu, rupiah cenderung bergerak lebih stabil bahkan menguat pada Juli dan Agustus. Proyeksi tersebut menjadi dasar keyakinan BI terhadap pemulihan nilai tukar ke depan.
Faktor domestik penopang rupiah
Meski menghadapi tekanan, Perry menilai ekonomi domestik masih memiliki fondasi yang kuat untuk menopang rupiah. Defisit transaksi berjalan disebut rendah, pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, dan inflasi masih terjaga. Kombinasi ini menjadi modal penting bagi stabilitas makroekonomi Indonesia.
BI menilai kondisi tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi nasional masih cukup baik dibanding banyak negara lain. Aktivitas ekonomi yang solid memberi ruang bagi pasar untuk merespons kebijakan moneter secara lebih positif. Dalam pandangan BI, fundamental yang sehat dapat membantu menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.
Perry menyebut stabilitas makroekonomi tidak hanya dilihat dari pergerakan kurs, tetapi juga dari kemampuan ekonomi menyerap guncangan. Karena itu, kebijakan moneter dan koordinasi dengan otoritas lain menjadi penting untuk menjaga kepercayaan pasar. BI ingin memastikan stabilitas tercapai tanpa menghambat pemulihan ekonomi.
Ia menegaskan, tekanan jangka pendek tidak mengubah kekuatan dasar ekonomi Indonesia. Selama indikator utama tetap solid, rupiah dinilai memiliki peluang untuk kembali ke arah yang lebih kuat. Optimisme itu menjadi landasan sikap BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Intervensi BI menjaga pasar
Bank Indonesia juga melakukan intervensi pasar valas secara intensif untuk meredam volatilitas rupiah. Langkah itu disertai penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI agar instrumen domestik tetap menarik. Menurut Perry, kebijakan tersebut efektif memperkuat daya tarik aset rupiah di mata investor.
Ia menyampaikan, intervensi yang dilakukan BI berhasil membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar besar-besaran. Kondisi ini menunjukkan respons pasar terhadap kebijakan moneter mulai membaik. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, tekanan terhadap rupiah diharapkan dapat ditekan lebih jauh.
BI menilai stabilisasi nilai tukar tidak cukup hanya mengandalkan satu instrumen, melainkan perlu kombinasi suku bunga, intervensi pasar, dan pengelolaan likuiditas. Strategi tersebut dirancang agar pasar tetap tenang dan pelaku usaha memiliki kepastian dalam bertransaksi. Kepastian kurs juga penting bagi sektor impor, ekspor, dan pembiayaan utang luar negeri.
Perry menegaskan keyakinannya bahwa rupiah akan stabil pada Juni dan cenderung menguat pada Juli serta Agustus. Menurutnya, sejarah pergerakan rupiah menunjukkan pola penguatan setelah tekanan musiman berlalu. Dengan dukungan kebijakan BI dan membaiknya sentimen, rupiah diharapkan bergerak lebih seimbang ke depan.
