BI Tegaskan Cadangan Devisa Tetap Kuat di Tengah Tekanan Rupiah

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 21 Mei 2026 23:31 WIB 7
BI Tegaskan Cadangan Devisa Tetap Kuat di Tengah Tekanan Rupiah

Bank Indonesia menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tetap kuat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut cadangan devisa berada di level US$ 146,2 miliar. Jumlah tersebut dinilai masih memadai untuk mendukung ketahanan eksternal perekonomian nasional. Pernyataan itu disampaikan sebagai respons atas penjelasan Gubernur BI Perry Warjiyo mengenai upaya stabilisasi rupiah.

Ramdan menjelaskan, cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar 114 persen dari ukuran kecukupan cadangan devisa menurut standar internasional IMF. Menurut dia, capaian itu mencerminkan kuatnya ketahanan eksternal Indonesia. BI juga disebut terus mengelola cadangan devisa secara terukur agar stabilitas nilai tukar tetap terjaga. Di saat yang sama, kepercayaan pasar dan stabilitas makroekonomi diharapkan tetap terpelihara.

Cadangan Masih Kuat

BI menilai posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 masih berada pada level yang aman. Nilai US$ 146,2 miliar dinilai cukup untuk menopang kebutuhan pembiayaan eksternal. Dengan posisi tersebut, ruang kebijakan bank sentral dianggap masih terjaga. Kondisi ini menjadi penyangga penting di tengah ketidakpastian pasar global.

Ramdan menegaskan cadangan devisa tidak hanya berfungsi sebagai alat intervensi pasar. Instrumen ini juga penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Karena itu, pengelolaan dilakukan secara hati-hati dan terukur. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

BI menyebut kekuatan cadangan devisa saat ini sejalan dengan kebutuhan ekonomi domestik. Ketahanan eksternal yang kuat dinilai penting untuk menghadapi tekanan dari luar negeri. Dalam situasi volatil, cadangan devisa menjadi bantalan utama bagi rupiah. Hal itu membuat kemampuan Indonesia menyerap guncangan global tetap relatif baik.

Intervensi Rupiah

Sebelumnya, Perry Warjiyo menjelaskan BI terus melakukan intervensi untuk menahan tekanan pada rupiah. Langkah itu dilakukan di tengah gejolak global yang masih tinggi. Menurutnya, kebijakan stabilisasi yang ditempuh tidak lagi bersifat biasa. BI disebut telah mengambil langkah yang jauh lebih agresif.

Perry menyampaikan, intervensi dilakukan besar-besaran di pasar domestik maupun luar negeri. Tujuannya adalah meredam tekanan yang muncul pada nilai tukar. Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, ia menegaskan kondisi pasar membutuhkan respons cepat. BI berupaya menjaga agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu dalam.

Meski intervensi dilakukan masif, sebagian besar langkah tidak langsung menguras cadangan devisa secara tunai. Perry menjelaskan porsi terbesar dilakukan melalui skema swap dan hedging. Menurut dia, cara tersebut dipilih agar cadangan devisa tetap terjaga. Dengan demikian, stabilisasi rupiah bisa dilakukan tanpa menggerus daya tahan eksternal secara berlebihan.

Tekanan Pasar Global

BI menilai tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari ketidakpastian global yang masih tinggi. Pergerakan pasar keuangan internasional membuat mata uang negara berkembang ikut tertekan. Dalam situasi seperti itu, bank sentral dituntut menjaga keseimbangan antara stabilitas dan efisiensi kebijakan. Cadangan devisa menjadi salah satu instrumen utama dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Ramdan mengatakan BI akan terus mengelola cadangan devisa secara terukur sesuai kebutuhan. Fokus utama kebijakan tetap pada stabilitas nilai tukar rupiah. Di sisi lain, BI juga berupaya menjaga kepercayaan investor dan pelaku pasar. Pendekatan itu diperlukan agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga meski risiko eksternal meningkat.

Penurunan cadangan devisa sekitar US$ 10 miliar yang sempat disampaikan Perry dipahami sebagai bagian dari strategi stabilisasi. Namun, sebagian besar intervensi dilakukan melalui instrumen non-tunai. Artinya, penurunan yang terlihat belum sepenuhnya mencerminkan total upaya BI di pasar. Strategi tersebut menunjukkan bank sentral masih memiliki ruang untuk bertindak.

Prospek Ke Depan

Dengan cadangan devisa yang masih di atas ambang kecukupan internasional, BI memiliki landasan yang relatif kuat. Kondisi itu memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga rupiah tetap stabil. Namun, arah kebijakan tetap akan sangat dipengaruhi dinamika global. Karena itu, kewaspadaan dianggap tetap diperlukan dalam beberapa bulan ke depan.

Perry sebelumnya menyampaikan keyakinan bahwa upaya stabilisasi akan terus dilakukan secara konsisten. BI menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas untuk menjaga ketahanan ekonomi. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, koordinasi kebijakan menjadi semakin penting. Langkah ini diharapkan mampu menjaga sentimen positif terhadap perekonomian nasional.

Di akhir April 2026, BI mencatat cadangan devisa sebesar US$ 146,2 miliar atau sekitar Rp 2.529 triliun. Angka tersebut turun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar US$ 148,2 miliar. Meski demikian, level cadangan masih dinilai kuat dan memadai. BI menegaskan pengelolaan akan terus dilakukan secara hati-hati agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!