Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah semakin memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global. Situasi itu dipicu lonjakan harga minyak dunia, yang kemudian diikuti kenaikan berbagai harga komoditas lainnya, sehingga tekanan inflasi ikut meningkat.
Dalam konferensi pers virtual pada Rabu, 20 Mei 2026, Perry menyampaikan bahwa BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini turun menjadi 3 persen. Pada saat yang sama, inflasi global diperkirakan naik ke 4,3 persen, sementara prospek ekonomi dunia 2026 juga dinilai lebih rendah di level serupa.
Tekanan dari Timur Tengah
Konflik yang tak mereda di Timur Tengah menambah ketidakpastian di pasar global. Menurut Perry, dampaknya tidak hanya terasa pada harga energi, tetapi juga pada rantai pasok komoditas lain.
Kenaikan harga minyak dunia membuat biaya produksi dan distribusi ikut terdorong naik. Kondisi ini pada akhirnya menekan daya beli dan memperbesar risiko inflasi di banyak negara.
BI menilai gejolak tersebut akan menjaga tekanan pada perekonomian global dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, ruang pertumbuhan ekonomi dunia menjadi semakin terbatas.
Prospek yang melemah juga membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Dalam situasi seperti ini, arus modal cenderung bergerak menjauhi aset yang dianggap lebih berisiko.
Kebijakan Moneter Global
Tekanan inflasi global mendorong sejumlah bank sentral menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Perry menyebut langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
Bank sentral Amerika Serikat juga diperkirakan tidak memangkas suku bunga acuan atau Fed Fund Rate pada tahun ini. Bahkan, ada kemungkinan suku bunga kembali naik pada 2027 jika inflasi di negeri itu tetap tinggi.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat investor menimbang ulang arah portofolio mereka. Hal ini ikut memengaruhi pergerakan dana global di pasar keuangan internasional.
Dalam kondisi tersebut, aset berimbal hasil aman menjadi lebih menarik bagi sebagian investor. Dampaknya, pasar negara berkembang berpotensi menghadapi tekanan tambahan dari sisi aliran modal.
Tekanan Pasar Keuangan
Dari sisi pasar keuangan, Perry menyebut imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun telah naik ke 4,66 persen. Sementara itu, tenor 2 tahun juga meningkat menjadi 4,11 persen.
BI memperkirakan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat tersebut masih berpotensi naik. Salah satu pendorong utamanya adalah defisit fiskal yang membesar dan terus membebani pasar.
Kenaikan yield di AS memperkuat daya tarik aset dolar bagi investor global. Dalam situasi ini, modal asing cenderung berpindah dari Emerging Market ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Perpindahan modal itu turut menekan sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah. Tekanan pada nilai tukar biasanya juga memengaruhi sentimen pasar domestik secara keseluruhan.
Respons Kebijakan Nasional
Perry menegaskan bahwa memburuknya prospek ekonomi dan pasar keuangan global menuntut respons kebijakan yang lebih kuat. Sinergi fiskal dan moneter dinilai menjadi kunci untuk menjaga ketahanan eksternal.
BI menekankan pentingnya menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Kebijakan yang terkoordinasi diperlukan agar tekanan global tidak merambat lebih jauh ke dalam negeri.
Di tengah volatilitas pasar, kepercayaan investor perlu dijaga melalui langkah yang konsisten dan terukur. Stabilitas makroekonomi akan menjadi penopang utama bagi daya tahan Indonesia.
Dengan tekanan inflasi dan risiko pasar yang masih tinggi, koordinasi kebijakan menjadi semakin penting. Perry menyebut, penguatan sinergi nasional harus terus dilakukan agar ekonomi tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global.
