Benarkah Sarden Kalengan Aman? Ini Penjelasan Risikonya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 10:56 WIB 2
Benarkah Sarden Kalengan Aman? Ini Penjelasan Risikonya

Sarden kalengan kembali ramai diperbincangkan setelah sebagian pihak menyebutnya bukan termasuk produk ultra processed food. Label tersebut sempat memunculkan anggapan bahwa makanan ini lebih sehat dari yang selama ini dipersepsikan.

Namun, penilaian sehat atau tidaknya sebuah produk tidak cukup hanya dilihat dari tingkat pemrosesan. Kandungan natrium, potensi paparan BPA, serta cara penyimpanan dan pengolahan tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Sarden Kalengan dan BPA

Salah satu perhatian utama pada sarden kalengan adalah risiko paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini kerap digunakan dalam resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan.

Pelapis tersebut berfungsi menjaga kualitas isi kaleng agar lebih awet dan tidak mudah terkontaminasi. Meski demikian, kondisi tertentu dapat membuat partikel BPA berpindah ke makanan di dalamnya.

Pemanasan dan kerusakan pada kemasan menjadi dua faktor yang berpotensi memperbesar migrasi BPA. Karena itu, produk kalengan tetap perlu diperlakukan dengan hati-hati sebelum dikonsumsi.

Risiko ini tidak berarti setiap sarden kalengan otomatis berbahaya. Akan tetapi, paparan yang berulang dan dalam jumlah berlebih tetap perlu diwaspadai, terutama pada kelompok yang sensitif.

Risiko Natrium dan Kesehatan

Selain BPA, sarden kalengan juga dikenal memiliki kandungan natrium yang cukup tinggi. Asupan natrium berlebih dapat menjadi masalah bagi kesehatan, terutama bila dikonsumsi terlalu sering.

Tingginya natrium berkaitan dengan risiko tekanan darah meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu gangguan kardiovaskular pada sebagian orang.

Masyarakat kerap menganggap makanan kaleng aman karena praktis dan tahan lama. Padahal, kandungan gizi dan komposisinya tetap harus dibaca dengan cermat sebelum dibeli.

Dalam konteks pola makan harian, sarden kalengan sebaiknya tidak dijadikan sumber protein utama setiap saat. Variasi menu tetap diperlukan agar asupan garam dan zat tambahan lain tetap terkontrol.

Temuan Riset Terkini

Risiko migrasi BPA dari kaleng makanan turut diteliti dalam riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023. Hasil penelitian itu menemukan kadar migrasi BPA dalam jumlah kecil.

Temuan tersebut berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Artinya, paparan pada kadar yang diatur regulasi belum dianggap menimbulkan dampak kesehatan langsung.

Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan adanya kemungkinan akumulasi dalam jangka panjang. Kekhawatiran ini muncul jika seseorang terus-menerus terpapar dari berbagai sumber makanan dan kemasan.

Karena itu, hasil riset tidak serta-merta membuat semua produk kalengan bebas risiko. Penilaian tetap harus melihat frekuensi konsumsi, kondisi kemasan, dan total paparan harian.

Bijak Memilih Konsumsi

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menilai paparan BPA yang terus-menerus dapat mengganggu kesehatan metabolik. Ia juga menyoroti kemungkinan gangguan hormonal bila paparan berlangsung dalam periode panjang.

Dalam kondisi tertentu, paparan yang berulang bahkan dapat dikaitkan dengan risiko yang lebih serius. Karena itu, kehati-hatian tetap dibutuhkan saat memilih makanan kaleng untuk konsumsi sehari-hari.

Masyarakat disarankan memeriksa kondisi kemasan sebelum membeli atau membuka produk. Kaleng yang penyok, berkarat, atau rusak sebaiknya tidak dikonsumsi karena berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi.

Dengan memahami kandungan dan risikonya, konsumen dapat lebih bijak menempatkan sarden kalengan dalam pola makan. Produk ini boleh saja dikonsumsi, selama porsinya terjaga dan tidak berlebihan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!