Diabetes tipe 2 ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu kerusakan tubuh bila tidak dikendalikan dengan baik. Sebuah penelitian terbaru mengungkap, ekstrak bawang bombai berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah secara signifikan ketika dikombinasikan dengan obat metformin. Temuan ini memberi harapan baru, meski para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut masih perlu diuji lebih lanjut pada manusia.
Penelitian yang dipresentasikan di San Diego itu menunjukkan ekstrak umbi Allium cepa mampu menurunkan kadar gula darah puasa pada tikus diabetes hingga 50 persen pada dosis tertentu. Selain membahas potensi bawang bombai sebagai pendamping terapi, para pakar kesehatan juga mengingatkan pentingnya pembatasan gula, olahraga teratur, dan skrining kesehatan untuk mencegah komplikasi diabetes.
Bawang Bombai dan Gula Darah
Penelitian tersebut dikutip dari Surrey Live dan dipresentasikan dalam forum ilmiah di San Diego. Ekstrak dari umbi bawang bombai diuji pada tikus diabetes yang juga menerima metformin, obat anti-diabetes yang umum digunakan.
Tim peneliti memberikan ekstrak bawang bombai dalam tiga dosis, yakni 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus. Hasilnya, dosis 400 mg dan 600 mg terbukti menurunkan kadar gula darah puasa secara signifikan dibandingkan kondisi awal penelitian.
Penurunan yang dicatat mencapai 50 persen pada dosis 400 mg dan 35 persen pada dosis 600 mg. Menurut peneliti utama Anthony Ojieh, bawang bombai murah, mudah didapat, dan selama ini juga dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi.
Hasil Studi Pada Tikus
Penelitian ini melibatkan beberapa kelompok tikus diabetes dan non-diabetes sebagai pembanding. Sebagian kelompok menerima metformin dan ekstrak bawang bombai, sementara kelompok kontrol tidak diberi perlakuan tersebut.
Setiap kelompok terdiri dari lima tikus, dengan tujuan melihat apakah bawang bombai dapat memperkuat efek obat anti-diabetes. Hasil pengamatan menunjukkan adanya efek penurunan gula darah yang lebih jelas pada kelompok tikus diabetes yang mendapat kombinasi tersebut.
Meski demikian, peneliti juga menemukan ekstrak bawang bombai memicu peningkatan berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes. Ojieh menjelaskan, bawang bombai tidak tinggi kalori, tetapi diduga dapat meningkatkan metabolisme dan nafsu makan.
Catatan Untuk Manusia
Para peneliti menegaskan, hasil studi pada tikus belum dapat langsung diterapkan pada manusia. Ekstrak bawang yang digunakan dalam penelitian berasal dari umbi bawang yang tersedia di supermarket lokal, sehingga perlu proses pemurnian sebelum dipakai sebagai terapi manusia.
Proses tersebut penting agar kandungan aktifnya dapat dihitung secara tepat dan dosisnya lebih aman. Menurut peneliti, mekanisme pasti bagaimana bawang bombai menurunkan glukosa darah juga masih perlu diteliti lebih dalam.
Dengan demikian, bawang bombai belum bisa disebut sebagai pengganti obat diabetes. Namun, temuan ini membuka peluang riset lanjutan untuk menemukan terapi pendukung yang lebih terjangkau.
Cara Kendalikan Gula Darah
Kementerian Kesehatan RI menyarankan masyarakat membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak hingga 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Anjuran ini menjadi langkah dasar untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Olahraga fisik juga dinilai penting, dengan frekuensi 3 sampai 5 kali seminggu selama 30 hingga 45 menit. Jika memungkinkan, total durasi olahraga dapat mencapai sekitar 150 menit per minggu tanpa jeda dua hari berturut-turut.
Spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menekankan pentingnya evaluasi berkala agar perubahan gaya hidup tidak sia-sia. Ia juga mengingatkan skrining kesehatan, termasuk cek gula darah puasa dan HbA1c, untuk mengetahui apakah seseorang masih aman, masuk prediabetes, atau sudah diabetes.
