Ayana Pilih Kuliah Oxford, Dunia Hiburan Hanya Selingan

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 16:24 WIB 6
Ayana Pilih Kuliah Oxford, Dunia Hiburan Hanya Selingan

Ayana menegaskan dirinya tidak menjadikan dunia hiburan sebagai fokus utama karier. Perempuan berusia 30 tahun itu menyebut aktivitas keartisan hanya menjadi selingan di tengah kesibukannya sebagai pekerja kantoran dan akademisi. Ia mengungkapkan hal tersebut saat ditemui di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).

Di tengah jadwal yang padat, Ayana justru tengah bersiap memasuki fase penting dalam hidupnya. Pada September mendatang, ia dijadwalkan berangkat ke Inggris untuk menempuh pendidikan S2 di Universitas Oxford. Pilihannya jatuh pada bidang public policy, yang dinilai sejalan dengan latar belakang pendidikan S1-nya.

Fokus Ayana di Dunia Hiburan

Ayana menilai dunia hiburan bukan ruang utama untuk membangun karier jangka panjang. Ia lebih melihatnya sebagai kegiatan tambahan yang dijalani di sela kesibukan lain. Sikap itu membuatnya tetap menempatkan pekerjaan kantoran sebagai prioritas.

Dalam keterangannya, Ayana menegaskan tidak terlalu terikat pada aktivitas entertainment. Ia memilih bekerja di kantor dan menjalankan rutinitas profesional yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Menurut dia, tidak ada alasan untuk memusatkan perhatian sepenuhnya ke dunia hiburan.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Ayana memiliki pandangan karier yang cukup tegas. Ia ingin menjaga keseimbangan antara pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas tambahan yang digeluti. Dengan cara itu, ia merasa tetap bisa bergerak di banyak bidang tanpa kehilangan arah.

Meski dunia hiburan memberinya ruang untuk dikenal publik, Ayana tidak menempatkannya sebagai ukuran utama kesuksesan. Ia justru menganggap konsistensi dalam pekerjaan dan pendidikan sebagai pencapaian yang lebih penting. Pandangan itu menjadi dasar dari keputusan-keputusan hidup yang diambilnya saat ini.

Langkah Ayana Menuju Oxford

Rencana Ayana melanjutkan studi ke Oxford menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Ia akan menempuh pendidikan S2 pada September mendatang di kampus prestisius tersebut. Keputusan itu menunjukkan komitmennya untuk terus berkembang secara akademik.

Bidang public policy dipilih karena dekat dengan latar belakang pendidikannya saat mengambil S1. Ayana juga memiliki kedekatan dengan dunia politik, sehingga minatnya pada kebijakan publik terasa sejalan. Pilihan ini memperlihatkan arah studi yang tidak lepas dari pengalaman sebelumnya.

Oxford menjadi tujuan pendidikan yang menuntut kesiapan akademik dan mental tinggi. Ayana menyadari hal itu, namun ia memilih menyikapinya dengan tenang. Baginya, yang terpenting adalah menyiapkan diri untuk belajar secara serius.

Keberangkatan ke Inggris juga menandai keberanian Ayana menempuh tantangan baru. Ia tidak hanya berpindah lingkungan akademik, tetapi juga akan beradaptasi dengan ritme kehidupan internasional. Situasi tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kapasitas dirinya sebagai profesional muda.

Ayana Soal Biaya Kuliah

Biaya kuliah di Universitas Oxford dikenal sangat tinggi dan kerap menjadi perhatian banyak orang. Namun, Ayana menanggapinya dengan santai dan tidak menunjukkan kekhawatiran berlebihan. Ia merasa siap menghadapi konsekuensi finansial dari pilihannya.

Ayana menegaskan bahwa dirinya bukan lagi remaja yang bergantung penuh pada keluarga. Ia sudah berusia 30 tahun dan merasa memiliki tanggung jawab atas keputusan hidupnya sendiri. Karena itu, ia memandang persoalan biaya kuliah dari sudut yang lebih dewasa.

Dalam keterangannya, Ayana juga menyebut telah memiliki penghasilan sendiri. Ia memastikan kesiapan finansial menjadi salah satu alasan ia berani melangkah ke Oxford. Jawaban itu sekaligus menegaskan kemandirian yang ia bangun selama ini.

Sikap terbuka Ayana soal biaya pendidikan memperlihatkan bahwa ia menyiapkan studinya secara matang. Ia tidak mengandalkan spekulasi, melainkan kemampuan pribadi yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Dengan demikian, rencana kuliahnya tampak berjalan di atas fondasi yang realistis.

Ritme Hidup yang Dinikmati Ayana

Di tengah aktivitas yang membentang antara Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan, Ayana tetap menikmati ritme hidupnya. Mobilitas tinggi itu ia jalani karena tuntutan pekerjaan dan rencana pendidikan. Meski padat, ia tidak menunjukkan keluhan berarti.

Ayana mengaku senang bisa bekerja sekaligus bertemu dengan banyak orang baru. Baginya, interaksi sosial memberi kebahagiaan tersendiri dalam menjalani keseharian. Pola hidup tersebut membuatnya merasa aktif dan terus terhubung dengan berbagai lingkungan.

Selain bekerja dan belajar, Ayana juga menjaga keseimbangan dalam kehidupan pribadinya. Ia tampak berusaha memastikan semua tanggung jawab tetap berjalan tanpa saling mengganggu. Cara itu menjadi kunci agar dirinya tidak kehilangan fokus di tengah banyak peran.

Menjelang keberangkatan ke Oxford, Ayana hanya memusatkan perhatian pada satu tujuan utama. Ia ingin menyelesaikan pendidikan S2 dengan hasil yang memuaskan. Untuk itu, ia berupaya menjaga kondisi fisik agar tetap sehat selama masa studi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!