Ayana Fokus Kuliah S2 di Oxford, Entertainment Hanya Selingan

Lifestyle Nadia Safira Putri 21 Mei 2026 19:06 WIB 7
Ayana Fokus Kuliah S2 di Oxford, Entertainment Hanya Selingan

Ayana menegaskan bahwa dunia entertainment bukan fokus utama dalam perjalanan kariernya. Bagi perempuan berusia 30 tahun itu, hiburan hanya menjadi selingan di sela kesibukannya sebagai pekerja kantoran dan akademisi. Pernyataan itu ia sampaikan saat ditemui di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).

Di tengah kesibukan tersebut, Ayana justru tengah bersiap memasuki babak baru dalam hidupnya. Ia dijadwalkan berangkat ke Inggris pada September mendatang untuk menempuh pendidikan S2 di Universitas Oxford. Bidang yang akan ia dalami adalah public policy, yang selaras dengan latar belakang pendidikannya di tingkat sarjana.

Fokus di luar hiburan

Ayana mengaku tidak menempatkan dunia hiburan sebagai prioritas utama dalam kariernya. Menurut dia, aktivitas di entertainment hanya dijalani di waktu senggang. Sementara itu, pekerjaan tetap di kantor dan dunia akademik tetap menjadi poros utama kehidupannya.

Ia menjelaskan bahwa ritme hidup yang dijalaninya sudah terbagi dengan jelas. Saat bekerja, ia akan berada di kantor, lalu kembali menjalankan aktivitas lainnya sesuai kebutuhan. Karena itu, ia menilai tidak ada alasan untuk menjadikan entertainment sebagai fokus utama.

Baginya, pilihan tersebut juga mencerminkan arah hidup yang ingin ia jaga. Ayana ingin tetap dikenal sebagai pribadi yang produktif di banyak bidang. Ia pun tidak melihat popularitas sebagai tujuan akhir.

Sikap itu menunjukkan bahwa ia menempatkan karier secara lebih terukur. Hiburan, menurut dia, hanya salah satu ruang ekspresi, bukan satu-satunya jalan. Dengan cara itu, ia tetap bisa menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Langkah menuju Oxford

Rencana kuliah di Oxford menjadi perhatian tersendiri karena kampus tersebut dikenal sangat bergengsi. Ayana memastikan dirinya akan berangkat ke Inggris pada September untuk memulai studi. Keputusan itu menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademiknya.

Ia memilih public policy sebagai bidang studi karena memiliki keterkaitan dengan minat dan latar belakang sebelumnya. Pilihan tersebut juga sejalan dengan ketertarikannya pada dunia politik. Dengan begitu, pendidikan lanjutannya dipandang sebagai langkah yang logis dan terarah.

Ayana tidak menutupi bahwa studinya akan menuntut disiplin tinggi. Jadwal kuliah di luar negeri, ditambah aktivitas kerja yang masih berjalan, menuntut manajemen waktu yang matang. Namun, ia tampak siap menghadapi tantangan itu dengan tenang.

Persiapan keberangkatan ke Oxford juga menandai keseriusannya dalam menata masa depan. Ia ingin pengalaman akademik di kampus tersebut memberi nilai tambah bagi kariernya. Targetnya adalah menyelesaikan studi dengan hasil yang memuaskan.

Mandiri secara finansial

Saat disinggung soal biaya pendidikan yang fantastis, Ayana merespons dengan santai. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan lagi remaja yang bergantung penuh pada keluarga. Dengan usia 30 tahun, ia merasa sudah harus mandiri.

Ia juga menyebut bahwa dirinya sudah memiliki penghasilan sendiri. Karena itu, persoalan biaya kuliah tidak ia jadikan beban yang berlebihan. Sikap tersebut memperlihatkan rasa percaya diri dalam mengambil keputusan besar.

Ketika ditanya apakah masuk Oxford lewat beasiswa, Ayana memberikan jawaban yang tegas. Ia menyatakan bahwa ia memiliki kesiapan finansial untuk membiayai pendidikannya. Penegasan itu sekaligus menepis spekulasi yang beredar.

Dalam pandangannya, kemandirian finansial adalah bagian penting dari tanggung jawab pribadi. Ia merasa tidak perlu terlalu banyak mengandalkan orang lain untuk menempuh pendidikan. Prinsip itu menjadi bekal penting sebelum berangkat ke Inggris.

Menjaga ritme hidup

Di tengah jadwal yang padat, Ayana mengaku menikmati ritme hidup yang dijalaninya sekarang. Ia kerap harus membagi waktu antara Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan untuk urusan pekerjaan dan kuliah. Meski melelahkan, ia menilai semua itu memberi pengalaman berharga.

Baginya, kesempatan bekerja sambil bertemu banyak orang adalah hal yang menyenangkan. Ia melihat lingkungan yang beragam sebagai ruang belajar yang terus berkembang. Karena itu, ia tidak mengeluhkan mobilitas tinggi yang harus dijalani.

Ayana menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan S2 dengan baik. Ia tidak menyiapkan hal-hal yang terlalu rumit, melainkan berusaha menjaga kondisi tubuh tetap prima. Kesehatan menjadi prioritas agar seluruh rencana berjalan lancar.

Dengan pola pikir tersebut, Ayana tampak ingin menempuh fase baru hidupnya secara lebih matang. Ia menempatkan pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan dalam porsi yang seimbang. Bagi dirinya, itulah kunci untuk terus melangkah tanpa kehilangan arah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!