ASSI Soroti Peluang Besar Teknologi D2D di Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 29 Mei 2026 15:44 WIB 4
ASSI Soroti Peluang Besar Teknologi D2D di Indonesia

Teknologi direct-to-device atau D2D mulai menjadi perhatian industri satelit global, termasuk di Indonesia. Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menilai perkembangan ini membuka peluang besar bagi layanan konektivitas masa depan, meski masih dibayangi tantangan regulasi dan kedaulatan data. Ketua Umum ASSI Rusdianto Yuli Hermansyah mengatakan teknologi tersebut memungkinkan ponsel dan sensor terhubung langsung ke satelit tanpa infrastruktur tambahan. Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, kini tengah mengkaji skema operasional dan penggunaan spektrum frekuensi untuk teknologi itu.

Rusdianto menjelaskan, D2D pada dasarnya terbagi dalam dua kategori utama, yakni direct-to-cell dan direct IoT. Model pertama memungkinkan perangkat genggam tersambung langsung ke jaringan satelit, sedangkan model kedua menghubungkan sensor ke satelit untuk pengiriman data real time. Di Indonesia, pengembangan teknologi ini dinilai relevan bagi sektor maritim, industri, hingga wilayah yang minim jangkauan jaringan. Namun, pemanfaatannya masih menunggu kejelasan aturan agar implementasinya tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Teknologi D2D dan peluang

Teknologi D2D membuka cara baru dalam membangun konektivitas di wilayah yang belum terjangkau jaringan darat. Ponsel dapat tersambung langsung ke satelit tanpa perlu BTS tambahan, sehingga layanan komunikasi menjadi lebih fleksibel. Dalam sektor industri, sensor juga dapat mengirim data langsung ke satelit tanpa harus melewati pengumpul data terlebih dahulu. Skema ini dinilai dapat memangkas hambatan operasional, terutama untuk kebutuhan pemantauan jarak jauh.

ASSI melihat peluang D2D sangat besar karena teknologi ini dapat digunakan lintas sektor. Maritim, pertambangan, logistik, dan kebencanaan menjadi contoh bidang yang berpotensi merasakan manfaat langsung. Pengiriman data secara real time dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan respons layanan. Karena itu, D2D dipandang sebagai salah satu inovasi yang dapat memperluas ekosistem satelit nasional.

Selain konektivitas, D2D juga berkaitan erat dengan kebutuhan Positioning, Navigation, and Timing atau PNT. Di tengah tensi geopolitik global, banyak negara mulai membangun sistem navigasi sendiri sebagai alternatif dari GPS. Rusdianto menyebut persaingan ini sebagai bagian dari perang satelit yang sedang berlangsung di banyak wilayah. Kondisi tersebut membuat teknologi satelit tidak lagi sebatas layanan komunikasi, melainkan juga isu strategis negara.

Regulasi masih menunggu kepastian

Meski potensinya besar, implementasi D2D di Indonesia belum dapat berjalan penuh karena regulasi masih dikaji. Komdigi sedang menelaah model operasional, pemanfaatan spektrum, dan skema bisnis yang paling sesuai. Saat ini, layanan D2D memungkinkan penggunaan spektrum Mobile Satellite Service atau MSS. Namun, kapasitas bandwidth yang tersedia masih terbatas untuk mendukung skala layanan yang lebih luas.

Di tingkat global, International Telecommunication Union atau ITU juga masih membahas penambahan alokasi frekuensi. Pembahasan itu diperkirakan baru menghasilkan keputusan pada akhir 2027 atau awal 2028. Artinya, pengembangan ekosistem D2D di berbagai negara masih harus menunggu kesiapan regulasi internasional. Situasi ini membuat Indonesia perlu menyiapkan strategi sejak dini agar tidak tertinggal.

ASSI menilai kejelasan aturan menjadi syarat penting agar industri dapat bergerak lebih pasti. Tanpa landasan regulasi yang solid, pelaku usaha akan sulit menentukan investasi dan model layanan yang tepat. Karena itu, sinkronisasi antara pemerintah, operator, dan pemangku kepentingan dinilai sangat diperlukan. Kepastian kebijakan akan menentukan seberapa cepat teknologi ini dapat diadopsi di Tanah Air.

Model transparan dan regeneratif

Dalam ekosistem D2D, terdapat dua pendekatan teknologi yang umum dibahas, yakni model transparan dan model regeneratif. Model transparan memanfaatkan jaringan seluler yang sudah ada, lalu satelit bertindak sebagai penghubung tambahan. Sementara itu, model regeneratif membuat satelit berfungsi seperti operator seluler dengan jaringan inti sendiri. Kedua pendekatan tersebut memiliki konsekuensi teknis dan bisnis yang berbeda bagi Indonesia.

Rusdianto menyebut arah implementasi di Indonesia masih dikaji secara mendalam. Salah satu pertanyaan utama adalah apakah layanan ini akan dioperasikan oleh operator seluler atau langsung oleh satelit. Meski begitu, ia menilai model transparan lebih mungkin diterapkan sebagai langkah awal. Dalam skema itu, satelit diposisikan sebagai perpanjangan dari BTS yang sudah ada.

Pendekatan transparan dinilai lebih realistis karena dapat menyesuaikan diri dengan infrastruktur yang telah tersedia. Namun, model regeneratif tetap menjadi opsi jangka panjang jika ekosistem satelit nasional semakin matang. Pemilihan model nantinya akan sangat bergantung pada kesiapan teknologi, investasi, dan regulasi. Dengan begitu, pengembangan D2D bisa berjalan bertahap tanpa mengorbankan stabilitas layanan.

Kedaulatan data tetap prioritas

ASSI menegaskan bahwa pengembangan D2D harus tetap memperhatikan kedaulatan nasional. Idealnya, seluruh infrastruktur satelit dikendalikan oleh entitas dalam negeri agar pengawasan data lebih kuat. Namun, Rusdianto mengakui bahwa kebutuhan itu membutuhkan waktu dan investasi yang sangat besar. Karena itu, pendekatan bertahap dinilai lebih realistis untuk kondisi Indonesia saat ini.

Sebagai langkah awal, ASSI mendorong agar data dari layanan D2D tetap landing di Indonesia. Skema ini dianggap penting meskipun infrastruktur satelitnya melibatkan pihak asing. Perlindungan data konsumen menjadi alasan utama di balik dorongan tersebut. Bagi ASSI, kedaulatan digital tidak boleh diabaikan hanya karena mengejar percepatan teknologi.

Persaingan global di sektor satelit juga membuat isu kedaulatan semakin relevan. Selain Starlink, perusahaan seperti Amazon dan sejumlah pemain asal China turut mengembangkan konstelasi satelit LEO dalam jumlah besar. Kondisi ini menandakan bahwa pasar satelit akan semakin kompetitif dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah Indonesia pun didorong untuk lebih sigap agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemain yang siap bersaing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!