ASSI Soroti Kedaulatan Industri Satelit di Tengah Persaingan Global

Teknologi Moh. Royhan Nahado 31 Mei 2026 06:17 WIB 2
ASSI Soroti Kedaulatan Industri Satelit di Tengah Persaingan Global

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan dan pasar Asia Pasifik yang terus berkembang. Namun, peluang itu datang bersama tekanan dari pemain global yang menawarkan teknologi lebih maju dan layanan lebih agresif. Kehadiran satelit orbit rendah atau LEO membuat persaingan kian ketat karena menawarkan latensi rendah dan instalasi yang lebih mudah. Kondisi ini menempatkan kedaulatan digital Indonesia sebagai isu yang semakin mendesak untuk dijaga.

Di tengah perubahan itu, Asosiasi Satelit Indonesia menilai negara tidak cukup hanya menjadi pasar bagi layanan asing. Asosiasi menekankan pentingnya kontrol atas data, spektrum frekuensi, dan infrastruktur yang beroperasi di wilayah Indonesia. Ketua Umum ASSI Rusdianto Yuli Hermansyah menyebut perkembangan teknologi global memang tak bisa dihindari, tetapi harus direspons dengan strategi yang tepat. Ia menilai momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem nasional.

Persaingan satelit global

Masuknya pemain global seperti Starlink dan operator asing lain mengubah peta industri satelit nasional. Layanan berbasis LEO dinilai lebih cepat meraih perhatian karena menyasar pengguna akhir dengan model layanan yang sederhana. Keunggulan tersebut memberi tekanan pada operator domestik yang selama ini mengandalkan satelit orbit geostasioner atau GEO. Persaingan ini membuat standar pasar bergerak lebih cepat daripada kemampuan sebagian pelaku lokal.

Dalam skema layanan baru, pelanggan cenderung memilih konektivitas yang mudah dipasang dan memiliki kualitas stabil. Hal ini membuat ekspektasi pasar berubah, terutama di wilayah yang selama ini sulit dijangkau jaringan terestrial. Di sisi lain, operator lokal harus menyesuaikan strategi agar tidak tertinggal dari inovasi global. Tanpa adaptasi, posisi industri nasional berisiko makin terpinggirkan.

ASSI menilai tantangan tersebut tidak boleh disikapi dengan penolakan terhadap teknologi baru. Yang dibutuhkan adalah aturan main yang memastikan persaingan tetap sehat dan memberi ruang bagi pelaku dalam negeri. Pemerintah juga dinilai perlu membaca perubahan model bisnis satelit secara lebih komprehensif. Dengan begitu, transformasi industri dapat berjalan tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

Kedaulatan data dan orbit

Salah satu kekhawatiran utama dalam perkembangan layanan satelit global adalah aliran data yang berpotensi keluar dari yurisdiksi nasional. Layanan lintas batas memungkinkan konektivitas tanpa bergantung penuh pada infrastruktur dalam negeri. Kondisi itu memunculkan pertanyaan serius tentang siapa yang mengendalikan data strategis masyarakat dan bisnis Indonesia. Isu ini menjadi semakin penting ketika data dipakai untuk layanan publik dan komunikasi sensitif.

Selain data, perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit juga menjadi perhatian utama. Negara atau operator yang lebih dulu mengamankan sumber daya tersebut akan memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang. Keunggulan itu sulit dikejar karena berkaitan dengan teknologi, koordinasi internasional, dan kapasitas investasi besar. Dalam industri satelit, keterlambatan sedikit saja dapat berdampak pada posisi tawar yang melemah.

ASSI mendorong agar seluruh data dari layanan satelit, termasuk yang terhubung dengan jaringan seluler, tetap landing di Indonesia. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga kedaulatan digital dan meminimalkan risiko penguasaan data oleh pihak luar. Asosiasi juga menilai pengaturan yang tegas akan memberi kepastian bagi industri. Tanpa kepastian tersebut, manfaat ekonomi dari pertumbuhan satelit bisa berkurang bagi Indonesia.

Penguatan kapasitas nasional

Untuk mengurangi ketergantungan pada pemain global, Indonesia dinilai perlu memperkuat kapasitas nasional dari hulu ke hilir. Fondasi awal sebenarnya sudah ada melalui riset yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta operasional satelit oleh operator domestik. Meski begitu, kemampuan end-to-end masih perlu ditingkatkan agar industri lebih mandiri. Peningkatan ini mencakup desain, manufaktur, hingga pengoperasian satelit secara berkelanjutan.

Salah satu pekerjaan rumah terbesar adalah membangun rantai kemampuan yang lebih lengkap dalam negeri. ASSI menilai kemampuan peluncuran satelit juga perlu ditingkatkan, termasuk melalui rencana fasilitas peluncuran di Indonesia. Infrastruktur seperti ini akan memperkuat posisi nasional dalam ekosistem antariksa regional. Selain itu, kehadiran fasilitas lokal dapat menekan ketergantungan pada layanan luar negeri.

Pemerintah didorong memberi dukungan yang konsisten agar industri nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Investasi pada riset, sumber daya manusia, dan infrastruktur disebut sebagai syarat utama agar Indonesia mampu bersaing. Jika kapasitas domestik tidak diperkuat, ketergantungan terhadap operator asing akan semakin besar. Dalam jangka panjang, hal itu bisa mempersempit ruang kedaulatan teknologi nasional.

Regulasi adil bagi operator

ASSI juga meminta pemerintah menerapkan kebijakan yang adil atau level playing field bagi operator lokal dan global. Menurut asosiasi, kesetaraan aturan diperlukan agar persaingan tidak timpang sejak awal. Hal itu mencakup biaya spektrum, kewajiban operasional, dan kepatuhan terhadap aturan nasional. Tanpa keseimbangan regulasi, operator domestik akan menghadapi beban yang lebih berat.

Di tengah tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial atau NTN menuju era 6G, posisi satelit semakin strategis. Satelit tidak lagi berdiri sebagai layanan pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem telekomunikasi nasional. Peran ini membuat pengaturan sektor satelit harus disusun dengan visi jangka panjang. Ketiadaan arah kebijakan yang jelas berisiko menimbulkan benturan kepentingan antaroperator.

Rusdianto menilai situasi saat ini merupakan momentum untuk memperkuat ekosistem nasional sebelum persaingan makin jauh tertinggal. Ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Menurut dia, kontrol atas data dan infrastruktur harus tetap berada dalam pengawasan nasional. Jika tidak, manfaat besar dari pertumbuhan industri satelit bisa lebih banyak dinikmati pihak lain.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!