Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan yang luas, namun tantangan dari pemain global membuat persaingan kian ketat. Kehadiran layanan satelit orbit rendah atau LEO, seperti Starlink, mendorong perubahan besar dalam peta industri dan menekan posisi operator domestik.
Di tengah situasi itu, Asosiasi Satelit Indonesia menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan langit Nusantara, khususnya terkait pengendalian data, spektrum frekuensi, dan infrastruktur yang melintasi wilayah nasional. ASSI menilai, perkembangan teknologi global memang tidak bisa dihindari, tetapi Indonesia harus memiliki strategi agar tidak sekadar menjadi pasar.
Kedaulatan Satelit Nasional
Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menekankan bahwa industri satelit nasional tidak boleh kehilangan kendali atas layanan yang beroperasi di wilayah Indonesia. Menurut dia, potensi pasar memang besar, tetapi kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama.
Ia menilai, kedaulatan tidak hanya berbicara tentang penyedia layanan, melainkan juga siapa yang menguasai data dan infrastruktur. Karena itu, penguatan regulasi dinilai penting agar kepentingan nasional tidak tersisih oleh pemain asing.
ASSI memandang, layanan satelit global membawa efisiensi dan kecepatan, tetapi juga memunculkan konsekuensi strategis. Salah satunya adalah risiko data tidak sepenuhnya berada dalam kendali yurisdiksi Indonesia.
Dalam kondisi seperti ini, Indonesia perlu memastikan bahwa setiap perkembangan teknologi tetap berada dalam koridor kepentingan nasional. Tanpa itu, industri domestik berisiko hanya menjadi penonton di pasar sendiri.
Risiko Data dan Spektrum
Salah satu kekhawatiran utama adalah aliran data yang berpotensi keluar dari yurisdiksi nasional jika tidak diatur secara ketat. Layanan berbasis satelit memungkinkan konektivitas langsung tanpa bergantung penuh pada infrastruktur dalam negeri.
Kondisi tersebut membuat kontrol atas data strategis menjadi isu yang semakin sensitif. Di era konektivitas digital, data dipandang sebagai aset penting yang harus dijaga keamanannya.
Selain data, perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit juga menjadi tantangan besar di tingkat global. Negara atau operator yang lebih cepat mengamankan sumber daya tersebut akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar.
ASSI menilai, tanpa pengaturan yang jelas, benturan kepentingan antaroperator dapat memicu ketimpangan baru. Karena itu, tata kelola spektrum dan orbit perlu disusun secara lebih terarah dan konsisten.
Penguatan Ekosistem Nasional
Untuk mengurangi ketergantungan pada pemain global, ASSI mendorong penguatan kapasitas nasional dari hulu ke hilir. Indonesia memang telah memiliki fondasi awal melalui riset Badan Riset dan Inovasi Nasional serta operasional satelit oleh operator domestik.
Namun, kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit dinilai masih perlu ditingkatkan. Salah satu langkah yang didorong adalah pembangunan fasilitas peluncuran di dalam negeri.
Menurut ASSI, penguatan ekosistem nasional akan memperbesar daya tahan industri satelit Indonesia dalam jangka panjang. Langkah ini juga dapat membuka ruang lebih luas bagi talenta dan industri pendukung di dalam negeri.
Dengan kapasitas yang lebih kuat, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pemain yang mampu bersaing. Hal ini dinilai penting agar industri nasional memiliki posisi tawar yang lebih baik.
Aturan Adil Untuk Industri
ASSI juga meminta pemerintah menghadirkan kebijakan yang adil atau level playing field bagi operator lokal dan global. Kesetaraan itu dinilai perlu, baik dari sisi biaya spektrum maupun kewajiban operasional.
Tanpa aturan yang seimbang, operator domestik berpotensi kalah bersaing dalam menghadapi perusahaan global yang memiliki modal dan teknologi lebih besar. Situasi tersebut dapat memperlebar jarak kompetisi di pasar satelit nasional.
ASSI menegaskan bahwa kebijakan yang tepat akan membantu menjaga keberlanjutan industri dalam negeri. Di sisi lain, regulasi yang jelas juga memberi kepastian bagi pelaku usaha untuk berinvestasi.
Di tengah integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial menuju era 6G, satelit diperkirakan menjadi bagian penting dari ekosistem telekomunikasi nasional. Karena itu, isu kedaulatan tidak lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan strategis bagi Indonesia.
