ASSI Ingatkan Kedaulatan Satelit di Tengah Laju LEO

Teknologi BRH 29 Mei 2026 06:34 WIB 3
ASSI Ingatkan Kedaulatan Satelit di Tengah Laju LEO

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan yang luas dan pasar Asia Pasifik yang terus berkembang. Namun, peluang itu kini berhadapan dengan persaingan ketat dari pemain global yang membawa teknologi lebih maju dan agresif.

Kehadiran layanan satelit orbit rendah atau LEO membuat persaingan kian cepat berubah, karena menawarkan konektivitas yang lebih cepat, latensi rendah, dan instalasi yang lebih sederhana. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru tentang siapa yang menguasai layanan, data, spektrum frekuensi, dan infrastruktur di langit Nusantara.

Kedaulatan Satelit Nasional

Asosiasi Satelit Indonesia menilai perkembangan teknologi global tidak dapat dihindari, tetapi harus direspons dengan strategi yang tepat. Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi layanan asing.

Menurut dia, kontrol atas data dan infrastruktur yang beroperasi di wilayah Indonesia harus tetap berada dalam kendali nasional. Ia menyampaikan hal itu di Jakarta, Selasa (5/5/2026), di tengah meningkatnya perhatian terhadap kedaulatan digital.

ASSI juga menyoroti pentingnya menjaga agar layanan satelit yang terhubung dengan jaringan seluler tetap menempatkan data di Indonesia. Langkah itu dinilai penting untuk memastikan aliran data strategis tidak keluar dari yurisdiksi nasional.

Dalam pandangan asosiasi, kedaulatan satelit tidak hanya berbicara soal bisnis, tetapi juga soal keamanan dan kepentingan negara. Karena itu, industri satelit nasional perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari pembuat kebijakan.

Ancaman Satelit LEO

Model bisnis satelit LEO dinilai mampu mengubah ekspektasi pasar karena menawarkan layanan yang langsung menyasar pengguna akhir. Keunggulan ini membuat operator domestik yang selama ini mengandalkan satelit GEO harus bersaing lebih keras.

Starlink dan operator satelit asing lainnya disebut membawa tekanan baru bagi industri nasional. Mereka datang dengan teknologi yang lebih cepat diadopsi pasar dan jaringan yang semakin mudah dijangkau.

Bagi Indonesia, tantangan tersebut tidak hanya bersifat komersial, tetapi juga struktural. Jika tidak ada respons yang tepat, pemain lokal berisiko kehilangan pangsa pasar di wilayah sendiri.

ASSI menilai pemerintah perlu melihat dinamika ini sebagai bagian dari perubahan besar dalam industri telekomunikasi. Keseimbangan antara inovasi, kompetisi, dan kepentingan nasional menjadi semakin penting untuk dijaga.

Spektrum dan Orbit

Salah satu perhatian utama dalam industri satelit adalah perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit di tingkat global. Pihak yang lebih dulu mengamankan sumber daya tersebut biasanya memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar.

ASSI mengingatkan bahwa tanpa orkestrasi nasional, potensi benturan frekuensi dan orbit antaroperator bisa terjadi. Situasi itu justru dapat merugikan industri dalam negeri yang membutuhkan kepastian regulasi.

Isu ini menjadi semakin penting karena layanan satelit global dapat beroperasi tanpa bergantung penuh pada infrastruktur dalam negeri. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut membuka risiko terhadap kontrol data strategis.

Karena itu, pengaturan yang tegas diperlukan agar pengelolaan spektrum dan orbit tidak berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah dinilai perlu memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama.

Penguatan Satelit Nasional

Di sisi lain, Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi awal dalam pengembangan satelit melalui riset dan operasional domestik. Badan Riset dan Inovasi Nasional serta operator lokal disebut telah memberi pijakan bagi penguatan sektor ini.

Namun, kapasitas end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. Salah satu arah pengembangan yang didorong adalah pembangunan fasilitas peluncuran di dalam negeri.

ASSI juga meminta pemerintah menghadirkan kebijakan yang adil atau level playing field bagi operator lokal dan global. Keadilan itu mencakup biaya spektrum dan kewajiban operasional yang seimbang.

Di tengah tren integrasi jaringan terestrial dan non-terestrial menuju era 6G, satelit diperkirakan menjadi bagian penting dari ekosistem telekomunikasi nasional. Rusdianto menilai momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat industri dalam negeri agar tidak tertinggal di rumah sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!