Anxiety Bag Jadi Tren Baru Gen Z untuk Redakan Cemas

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 06:49 WIB 7
Anxiety Bag Jadi Tren Baru Gen Z untuk Redakan Cemas

Generasi Z kini semakin akrab dengan kecemasan, seiring berbagai survei menunjukkan angka anxiety terus meningkat di kalangan usia muda. Di tengah situasi itu, muncul tren anxiety bag atau tas kecil berisi alat bantu untuk menenangkan diri saat cemas datang tiba-tiba.

Wadah ini disebut juga panic pouch atau calm-down kit, dan mulai populer karena dinilai praktis digunakan saat serangan panik muncul mendadak. Meski terapi bicara dan obat tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian orang, para ahli menilai alat sederhana ini bisa membantu sebagai penanganan cepat.

Anxiety Bag Jadi Tren

Anxiety bag berisi benda-benda kecil yang dirancang untuk membantu seseorang kembali tenang ketika rasa cemas meningkat. Konsep ini banyak dibagikan di media sosial, terutama di kalangan Gen Z perempuan yang mencari cara praktis untuk mengelola emosi.

Dokter dan ahli neuroscience, Dr Kyra Bobinet, menilai ide menyimpan alat regulasi diri dalam jangkauan saat stres tinggi merupakan langkah yang cerdas. Menurutnya, saat lingkungan terlalu ramai, seseorang belum tentu ingat melakukan mindfulness atau teknik pernapasan.

Survei terhadap hampir 1.000 responden usia 18-26 tahun menunjukkan 61 persen mengaku memiliki gangguan kecemasan terdiagnosis. Sementara itu, 43 persen melaporkan mengalami serangan panik setidaknya sebulan sekali.

Isi Anxiety Bag

Isi anxiety bag dapat berbeda pada tiap orang, tergantung pada pemicu cemas yang paling sering dialami. Sejumlah pengguna memilih obat pribadi, minyak esensial lavender, hingga permen asam untuk membantu mengalihkan fokus.

Stefany Staples, 24 tahun, mengatakan perlengkapan kecil itu membantunya saat gejala fisik seperti jantung berdebar muncul. Ia menyebut aroma lavender dan rasa permen yang tajam membuat pikirannya kembali lebih terkendali.

Psikolog klinis Dr Jenny Martin menjelaskan bahwa intervensi sensorik cepat dapat membantu menghentikan lonjakan sistem saraf. Contohnya adalah memegang es, mengisap permen asam, atau mencium aroma yang kuat.

Anxiety Bag dan Grounding

Para ahli menilai anxiety bag bekerja dengan mengalihkan perhatian dari pikiran cemas ke tubuh dan momen saat ini. Efek ini membantu pengguna merasa lebih grounded ketika pikiran mulai berputar tidak terkendali.

Dr MaryEllen Eller mengatakan, jika kecemasan dipicu overstimulasi, headphone peredam suara dan musik yang menenangkan bisa menjadi pilihan. Namun jika pemicunya adalah pikiran berlebihan, teknik grounding seperti fokus pada rasa dan tekstur permen mint lebih relevan.

Benda bertekstur atau fidget juga dapat memberi sensasi sentuhan yang membantu menenangkan diri. Ia menyarankan setiap orang mencoba berbagai metode saat kondisi tenang agar tahu mana yang paling efektif ketika dibutuhkan.

Batas Penggunaan Anxiety Bag

Meski berguna, para ahli mengingatkan agar anxiety bag tidak dijadikan satu-satunya sandaran saat cemas. Jika digunakan terus-menerus tanpa strategi lain, alat ini berisiko menimbulkan ketergantungan.

Psikiater Dr Vinay Saranga menilai anxiety bag adalah ide yang baik untuk membantu pasien menghadapi momen genting. Namun tujuan jangka panjang tetap mengarah pada kemampuan mengelola kecemasan tanpa bergantung pada tas tersebut.

Karena itu, anxiety bag sebaiknya dipahami sebagai alat bantu sementara, bukan pengganti perawatan profesional. Dengan pendekatan yang tepat, pengguna bisa mendapatkan rasa aman tanpa kehilangan kemampuan mengendalikan diri secara mandiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!