Anxiety Bag Jadi Tren Baru Gen Z Saat Cemas Meningkat

Lifestyle Anindya Kirana Putri 23 Mei 2026 15:35 WIB 5
Anxiety Bag Jadi Tren Baru Gen Z Saat Cemas Meningkat

Gen Z semakin akrab dengan kecemasan, seiring berbagai survei menunjukkan tingkat anxiety pada usia muda terus meningkat. Di tengah kondisi itu, muncul tren anxiety bag atau tas kecil berisi alat bantu untuk menenangkan diri saat cemas datang tiba-tiba.

Metode ini viral di media sosial karena dianggap praktis, cepat digunakan, dan bisa membantu saat terapi bicara atau obat-obatan tidak langsung tersedia. Para ahli menilai, solusi semacam ini dapat menjadi penopang awal ketika serangan panik muncul di tengah situasi yang penuh stimulasi.

Anxiety Bag dan Fungsinya

Anxiety bag juga dikenal sebagai panic pouch atau calm-down kit, yakni tas kecil yang diisi alat bantu sederhana untuk meredakan cemas. Tren ini banyak diminati Gen Z, terutama perempuan, yang mencari cara cepat untuk menenangkan diri saat gejala muncul.

Dokter dan ahli neuroscience, Dr. Kyra Bobinet, menilai ide menyimpan alat regulasi diri dalam jangkauan saat stres tinggi merupakan langkah yang cerdas. Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak selalu bisa mengingat teknik mindfulness ketika berada di lingkungan yang terlalu ramai atau penuh rangsangan.

Dalam survei terhadap hampir 1.000 responden usia 18-26 tahun, sebanyak 61 persen mengaku memiliki gangguan kecemasan terdiagnosis. Selain itu, 43 persen responden mengatakan mengalami serangan panik setidaknya sebulan sekali.

Isi Tas Penenang Diri

Isi anxiety bag dapat berbeda pada tiap orang, tergantung pemicu kecemasan yang dialami. Seorang pengguna bernama Stefany Staples, 24 tahun, misalnya, membawa obat, minyak esensial lavender, dan permen asam untuk membantu menenangkan diri.

Menurut Stefany, benda-benda tersebut membuat dirinya kembali grounded dan memutus siklus kecemasan di kepala. Ia mengaku gejala yang dialami sempat berupa jantung berdebar hingga beberapa kali harus pergi ke rumah sakit.

Psikolog klinis Dr. Jenny Martin menjelaskan bahwa intervensi sensorik cepat dapat membantu menghentikan lonjakan sistem saraf. Contohnya adalah memegang es, mengisap permen asam, atau mencium aroma yang kuat untuk mengalihkan fokus dari pikiran cemas ke tubuh.

Strategi Mengatasi Cemas

Para ahli menyarankan isi tas disesuaikan dengan kondisi yang paling sering memicu kecemasan. Jika pemicunya adalah overstimulasi, headphone peredam suara dan musik yang menenangkan dapat menjadi pilihan yang efektif.

Jika kecemasan lebih banyak dipicu pikiran berlebihan, teknik grounding bisa membantu mengembalikan fokus pada momen saat ini. Salah satu caranya adalah mengunyah permen mint sambil memperhatikan rasa dan teksturnya secara sadar.

Benda bertekstur atau fidget juga dapat memberi sensasi sentuhan yang menenangkan bagi sebagian orang. Dr. MaryEllen Eller menyarankan agar setiap orang mencoba berbagai metode saat kondisi tenang untuk menemukan kombinasi yang paling cocok.

Perlu Digunakan Secara Bijak

Meski bermanfaat, para ahli mengingatkan agar anxiety bag tidak membuat penggunanya bergantung sepenuhnya pada alat bantu tersebut. Dalam jangka panjang, kemampuan mengelola kecemasan tanpa alat tetap harus dilatih.

Psikiater Dr. Vinay Saranga menilai konsep ini sangat membantu sebagai dukungan awal bagi pasien. Namun, tujuan akhirnya tetap mengarah pada kemandirian, bukan ketergantungan terhadap tas penenang itu.

Dengan penggunaan yang tepat, anxiety bag dapat menjadi alat sederhana untuk menghadapi momen panik secara lebih terkendali. Tren ini juga menunjukkan bahwa kesadaran anak muda terhadap kesehatan mental semakin terbuka dan berkembang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!