Anime Jadi Media Baru untuk Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 15:12 WIB 3
Anime Jadi Media Baru untuk Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik dengan hiburan kini mulai diuji sebagai pendekatan baru dalam menangani kesehatan mental di Jepang. Gagasan tersebut datang dari Francesco Panto, psikiater asal Italia yang lama menetap di negara itu, melalui riset tentang konseling berbasis karakter anime. Penelitian ini menyasar anak muda dengan gejala depresi, stres, dan kelelahan mental. Hasil awalnya diharapkan memberi bukti apakah pendekatan ini benar-benar efektif.

Di tengah tingginya stigma pencarian bantuan psikologis di Jepang, metode ini dianggap menawarkan jalan masuk yang lebih nyaman. Peserta konseling tidak bertemu psikolog dalam tampilan konvensional, melainkan lewat avatar anime dengan suara digital yang dimodifikasi. Cara tersebut dinilai dapat mengurangi jarak emosional dan membuat sesi terasa lebih aman. Dari situ, peneliti ingin melihat apakah keterikatan dengan karakter fiksi bisa membantu pemulihan.

Anime dan Kesehatan Mental

Francesco mengaku pengalaman pribadinya sejak remaja sangat memengaruhi arah penelitiannya. Ia tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia, dalam lingkungan yang sarat stereotip gender dan ekspresi diri. Dalam kondisi itu, manga dan anime menjadi tempat berlindung ketika ia kesulitan menemukan jati diri. Menurutnya, media tersebut memberi dukungan emosional yang sangat berarti.

Ia kemudian menemukan video game Final Fantasy saat berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Karakter protagonis pria dalam permainan itu terasa dekat dengan dirinya karena tampil maskulin, tetapi tetap punya sisi unik. Pengalaman tersebut menegaskan bahwa karakter fiksi dapat menjadi ruang aman bagi seseorang. Dari sana, Francesco mulai menaruh perhatian pada potensi terapeutik dunia anime.

Berbekal pengalaman itu, ia mengembangkan riset eksperimental di Yokohama City University. Studi percontohan selama enam bulan itu selesai pada Maret 2026 dan melibatkan 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun. Para peserta memiliki gejala depresi dan mengikuti konseling online dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime. Pendekatan ini disebut sebagai character-based counselling atau konseling berbasis karakter.

Dalam metode tersebut, peserta dipersilakan memilih karakter yang paling mereka anggap cocok. Tim peneliti menyiapkan enam karakter dengan arketipe khas manga Jepang yang berbeda-beda. Ada figur keibuan yang tenang namun membawa senjata, hingga karakter pria seperti pangeran berjubah yang sangat peka secara emosional. Semua karakter dirancang agar menarik sekaligus mudah diterima peserta.

Karakter Anime sebagai Ruang Aman

Francesco menjelaskan bahwa setiap karakter diberi latar perjuangan mental yang spesifik. Salah satunya adalah Kuroto Nagi, tokoh dengan ciri-ciri bipolar yang dibuat untuk mewakili pengalaman psikologis tertentu. Karakter lain digambarkan mengalami gangguan kecemasan, PTSD, hingga masalah konsumsi alkohol. Menurutnya, pendekatan ini membantu peserta mengaitkan emosi mereka dengan sosok yang lebih mudah dipahami.

Meski mengangkat isu kesehatan mental, para karakter tetap dipoles agar terasa menyenangkan. Psikolog yang memimpin sesi diminta tidak membuat masalah mental terlalu gamblang pada tahap awal. Dengan cara itu, peserta dapat masuk ke proses konseling tanpa merasa sedang dihakimi. Francesco menyebut ada semacam filter fantasi yang membuat orang lebih terbuka.

Tim peneliti juga memantau indikator fisik selama studi berlangsung. Detak jantung dan pola tidur peserta dicatat untuk melihat apakah metode ini mampu memberi dampak positif. Selain menilai kelayakan terapi, data tersebut digunakan untuk mengukur penurunan gejala depresi. Hasil pengamatan ini akan menentukan apakah pendekatan serupa layak dikembangkan lebih lanjut.

Menurut Francesco, harapan terbesar dari penelitian ini adalah mengonfirmasi bahwa karakter anime bisa menjadi jembatan menuju pemahaman diri. Ia menilai, ketika orang merasa aman, mereka lebih mudah membicarakan persoalan yang selama ini dipendam. Situasi itu berpotensi membuka akses terapi bagi kelompok yang biasanya enggan datang ke psikolog. Dengan demikian, anime tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana refleksi emosional.

Stigma Konseling di Jepang

Penelitian ini muncul di tengah tantangan besar kesehatan mental di Jepang. Negara tersebut masih menghadapi fenomena ikizurasa, istilah untuk menggambarkan perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan di tengah masyarakat. Banyak anak muda mengalami hambatan untuk pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Kondisi itu mendorong pencarian pendekatan baru yang lebih mudah dijangkau.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek ini, menilai kebutuhan tersebut sangat mendesak. Ia menyebut ada banyak anak muda yang tidak mampu mengikuti ritme sosial dan profesional yang diharapkan. Tujuan penelitian ini, kata dia, adalah memberi mereka pilihan baru untuk pulih dari kesulitan yang dihadapi. Pendekatan berbasis karakter dinilai bisa menjadi opsi tambahan selain konseling konvensional.

Ishii juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap layanan kesehatan mental di Jepang. Data yang dikutip World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Fakta tersebut memperlihatkan betapa besar hambatan budaya dalam mencari bantuan.

Karena itu, model konseling yang dikemas lebih akrab dianggap memiliki peluang diterima lebih luas. Anime dan manga telah lama menjadi bagian dari budaya populer Jepang, sehingga pendekatan ini tidak terasa asing bagi banyak orang. Para peneliti berharap metode tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi mereka yang selama ini ragu mencari pertolongan. Jika berhasil, terapi berbasis karakter bisa menambah warna baru dalam layanan kesehatan mental di Jepang.

Potensi Terapi Anime

Meski masih tahap awal, hasil studi ini memunculkan optimisme di kalangan peneliti. Mereka ingin mengetahui apakah interaksi dengan karakter anime benar-benar mampu menurunkan beban psikologis peserta. Jika efeknya konsisten, metode ini dapat dipakai untuk kelompok yang sulit menjangkau layanan psikologis biasa. Dengan demikian, terapi tidak lagi terasa kaku dan menakutkan.

Pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana budaya populer bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih serius. Anime yang biasanya dipandang sebagai hiburan remaja kini diposisikan sebagai medium dukungan emosional. Perubahan sudut pandang ini membuka ruang baru bagi inovasi dalam kesehatan mental. Di sisi lain, riset semacam ini juga dapat memperkaya cara pandang medis terhadap relasi manusia dan fiksi.

Bagi Jepang, pencarian solusi semacam ini menjadi penting karena kebutuhan layanan mental terus meningkat. Stigma, rasa sungkan, dan keterbatasan akses masih menjadi hambatan utama bagi banyak orang. Konseling berbasis avatar anime menawarkan pendekatan yang lebih akrab dan tidak mengintimidasi. Dalam situasi tertentu, kedekatan emosional itu bisa menjadi pembuka percakapan yang penting.

Jika penelitian lanjutan membuktikan efektivitasnya, anime berpotensi masuk ke ranah layanan kesehatan dengan peran yang lebih luas. Bukan untuk menggantikan psikolog, melainkan memperkaya cara mereka menjangkau pasien. Bagi banyak orang muda, tokoh fiksi yang terasa dekat bisa menjadi awal dari proses pemulihan. Dari ruang hiburan, anime pun berpeluang menjadi bagian dari solusi kesehatan mental.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!