Anime Diuji sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 18:58 WIB 2
Anime Diuji sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik dengan hiburan, kini sedang diuji untuk fungsi yang jauh lebih serius di Jepang. Gagasan ini muncul dari penelitian yang menyoroti potensi anime dalam membantu mengurangi stres, burnout, hingga depresi.

Inisiatif tersebut digerakkan oleh Francesco Panto, psikiater asal Italia yang lama tinggal di Jepang. Ia mengembangkan pendekatan konseling berbasis karakter anime melalui studi percontohan di Yokohama City University, yang selesai pada Maret 2026.

Anime dan Kesehatan Mental

Francesco mengaku kedekatannya dengan anime berawal sejak remaja di pedesaan Sisilia, Italia. Saat itu, anime menjadi tempat berlindung ketika ia kesulitan memahami jati diri dan lingkungan sosialnya.

Manga dan anime, kata dia, memberi dukungan emosional yang penting pada masa pertumbuhan. Pengalaman itu membentuk pandangannya bahwa budaya populer dapat menjadi jembatan untuk memahami kesehatan mental.

Ia juga merasakan perubahan besar ketika mengenal Final Fantasy pada usia sekitar 12 atau 13 tahun. Karakter protagonis pria dalam gim itu, menurutnya, memberi contoh maskulinitas yang kuat, tetapi tetap memberi ruang bagi ekspresi emosi.

Pengalaman pribadi tersebut kemudian mendorongnya meneliti kemungkinan anime digunakan dalam terapi psikologis. Dari sana lahirlah gagasan bahwa karakter fiksi dapat membantu pasien merasa lebih aman saat membicarakan masalah batin.

Terapi Anime Berbasis Karakter

Dalam proyek bertajuk character-based counselling, tim Francesco merekrut 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun. Seluruh peserta diketahui mengalami gejala depresi dan mengikuti sesi konseling daring dengan pendekatan yang tidak biasa.

Alih-alih bertemu psikolog dalam format konvensional, peserta berinteraksi dengan avatar bergaya anime. Suara digital sang psikolog juga dimodifikasi agar sesuai dengan karakter yang dipilih dalam sesi terapi.

Francesco menjelaskan, filter fantasi melalui karakter anime dapat membuat peserta lebih nyaman membuka diri. Pendekatan itu juga dinilai membantu mereka mengenali persoalan mental tanpa merasa dihakimi.

Tim peneliti lalu menciptakan enam karakter khusus dengan latar dan kepribadian yang berbeda. Setiap karakter dibuat terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang agar peserta bisa memilih sosok yang paling relevan dengan dirinya.

Uji Coba Anime di Jepang

Karakter yang digunakan dalam penelitian dirancang memiliki perjuangan mental masing-masing. Salah satunya, Kuroto Nagi, digambarkan memiliki ciri-ciri bipolar dan menjadi figur yang kompleks dalam alur konseling.

Karakter lain dibuat dengan latar gangguan kecemasan, trauma pascakejadian traumatis, hingga masalah konsumsi alkohol. Meski membawa tema berat, para tokoh itu tetap disusun agar terasa menarik dan menyenangkan bagi peserta.

Psikolog memperkenalkan kisah setiap karakter di awal sesi, tetapi tidak membuat gangguan mental terlalu gamblang. Pendekatan ini dipilih agar konseling tetap ringan, namun pesan terapinya tetap tersampaikan.

Pada tahap awal, penelitian juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta. Data tersebut digunakan untuk menilai apakah terapi ala anime layak diterapkan serta berpotensi menurunkan gejala depresi.

Stigma dan Harapan Baru

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental, termasuk fenomena ikizurasa. Istilah itu merujuk pada kondisi ketika seseorang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan di tengah tekanan sosial.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, mengatakan banyak anak muda di Jepang tidak mampu pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Situasi itu menunjukkan perlunya pilihan baru dalam mendukung proses pemulihan mereka.

Ishii juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap pencarian bantuan psikologis di Jepang. Data yang dikutip dari World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen warga Jepang pernah menggunakan layanan konseling untuk masalah kesehatan mental.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat. Karena itu, pendekatan berbasis anime dinilai berpeluang menjadi pintu masuk yang lebih ramah bagi masyarakat yang masih ragu mencari bantuan profesional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!