Anime Diuji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 01:13 WIB 2
Anime Diuji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik sebagai hiburan populer kini tengah diuji untuk fungsi yang lebih serius di Jepang, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari Francesco Panto, psikiater asal Italia yang lama tinggal di Jepang, melalui riset tentang konseling berbasis karakter anime.

Penelitian tersebut dilakukan untuk melihat apakah pendekatan yang memakai avatar anime dapat membantu orang muda menghadapi stres, burnout, depresi, dan persoalan psikologis lain. Tim peneliti di Yokohama City University menguji metode ini pada peserta berusia 18 hingga 29 tahun yang mengalami gejala depresi.

Anime dan Kesehatan Mental

Francesco Panto menjelaskan bahwa ketertarikannya pada anime berawal dari pengalaman pribadi saat remaja di pedesaan Sisilia, Italia. Saat itu, ia merasa anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika sulit menemukan jati diri.

Ia mengaku, tokoh-tokoh di dalam anime dan gim seperti Final Fantasy memberinya dukungan emosional yang penting. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa karakter fiksi dapat memiliki peran yang lebih dalam daripada sekadar hiburan.

Dari sana, Francesco mulai meneliti kemungkinan penggunaan karakter anime dalam terapi psikologis. Ia menilai pendekatan semacam ini dapat membuka ruang nyaman bagi orang yang kesulitan membicarakan masalah mental secara langsung.

Metode Konseling Berbasis Karakter

Proyek bertajuk character-based counselling ini dijalankan selama enam bulan dan selesai pada Maret 2026. Sebanyak 20 responden mengikuti konseling daring yang dipandu psikolog dengan avatar bergaya anime dan suara digital yang dimodifikasi.

Alih-alih bertemu konselor secara konvensional, peserta berinteraksi melalui sosok visual yang dirancang menyerupai karakter manga Jepang. Menurut Francesco, filter fantasi dari karakter tersebut membuat peserta lebih nyaman saat membicarakan persoalan pribadi.

Tim peneliti menciptakan enam karakter khusus dengan latar dan kepribadian berbeda. Peserta kemudian diberi kebebasan memilih karakter yang paling mereka rasa cocok, agar proses konseling terasa lebih personal.

Karakter Anime yang Diuji

Setiap karakter dalam studi ini dirancang dengan ciri emosional yang spesifik. Ada karakter yang memiliki aura keibuan dan tenang, namun tetap digambarkan membawa senjata, serta ada pula sosok pria seperti pangeran yang sangat peka secara emosional.

Francesco menyebut salah satu karakter bernama Kuroto Nagi memiliki ciri-ciri bipolar. Karakter lain digambarkan mengalami gangguan kecemasan, trauma pascakejadian traumatis, hingga masalah terkait konsumsi alkohol.

Meski membawa tema kesehatan mental, karakter-karakter itu tetap dibuat menarik dan menyenangkan. Psikolog yang terlibat diminta tidak membuat penjelasan mengenai gangguan mental terlalu gamblang pada tahap awal sesi.

Tantangan Kesehatan Mental Jepang

Penelitian ini juga berkaitan dengan tantangan kesehatan mental yang masih besar di Jepang, termasuk fenomena ikizurasa, yaitu perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan di tengah masyarakat. Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek ini, menyebut banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan.

Menurutnya, tujuan proyek ini adalah menghadirkan pilihan baru bagi mereka yang ingin pulih dari tekanan hidup. Selain itu, tim peneliti juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk menilai apakah terapi ala anime benar-benar layak diterapkan.

Mio Ishii turut menyoroti stigma yang masih kuat terhadap pencarian bantuan psikologis di Jepang. Data yang dikutip dari World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 baru sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis untuk masalah kesehatan mental.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!