Anime yang selama ini identik sebagai hiburan populer kini sedang diuji di Jepang untuk peran yang jauh lebih serius, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang menilai karakter anime dapat menjadi pintu masuk untuk menangani stres, burn out, hingga depresi.
Lewat penelitian di Yokohama City University, Francesco dan timnya menguji character-based counselling atau konseling berbasis karakter pada 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun. Pendekatan ini mengandalkan konseling daring dengan psikolog yang tampil sebagai avatar anime, lengkap dengan suara digital yang dimodifikasi.
Anime dan kesehatan mental
Francesco menjelaskan bahwa ketertarikannya pada anime bermula dari pengalaman pribadi saat tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia. Pada masa remaja, ia merasa anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika mencari jati diri.
Ia mengaku terpikat pada video game Final Fantasy saat berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Dari sana, ia melihat tokoh protagonis pria yang terasa dekat dengannya karena tampil maskulin sekaligus punya sisi emosional.
Pengalaman itu kemudian mendorongnya meneliti kemungkinan terapi berbasis karakter anime untuk kesehatan mental. Menurutnya, media populer ini bisa membantu pasien merasa lebih aman saat membicarakan persoalan yang mereka alami.
Metode konseling anime
Dalam studi percontohan selama enam bulan tersebut, peserta tidak menjalani konseling konvensional. Mereka justru berinteraksi dengan psikolog yang tampil sebagai karakter anime pilihan, sehingga sesi terasa lebih ringan dan akrab.
Tim peneliti merancang enam karakter khusus dengan arketipe berbeda, mulai dari figur keibuan yang tenang hingga pria berjubah yang sangat peka secara emosional. Setiap peserta diberi kebebasan memilih sosok yang paling cocok dengan dirinya.
Francesco menyebut pendekatan ini sebagai upaya menghadirkan semacam filter fantasi agar peserta lebih nyaman membuka diri. Ia berharap cara itu dapat membantu mereka mengenali masalah mental tanpa merasa dihakimi.
Karakter fiksi yang terapeutik
Setiap karakter dalam studi ini dirancang membawa perjuangan mental yang spesifik. Salah satunya adalah Kuroto Nagi, tokoh dengan ciri bipolar yang disiapkan sebagai bagian dari skenario konseling.
Karakter lain dibuat mewakili gangguan kecemasan, trauma pascakejadian traumatis atau post-traumatic stress disorder (PTSD), hingga persoalan konsumsi alkohol. Meski membahas isu serius, tokoh-tokoh itu tetap dibangun agar menyenangkan dan menarik bagi peserta.
Psikolog yang terlibat memperkenalkan kisah masing-masing karakter di awal sesi, tetapi tidak diminta menjelaskan masalah mental secara terlalu gamblang. Selain itu, peneliti juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk menilai efektivitas pendekatan ini.
Tantangan stigma di Jepang
Riset tersebut juga lahir dari kebutuhan Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental yang terus berkembang. Salah satu isu yang disorot adalah ikizurasa, istilah bagi orang-orang yang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan di tengah tekanan sosial.
Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek ini, menilai banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Ia menyebut penelitian ini dirancang untuk memberi mereka pilihan baru dalam proses pemulihan.
Mio juga menyoroti kuatnya stigma terhadap layanan kesehatan mental di Jepang. Data yang dikutip dari World Economic Forum menunjukkan hingga 2022 baru sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis.
