Anime Dikaji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 03:05 WIB 2
Anime Dikaji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik sebagai hiburan, kini diuji perannya sebagai pendekatan baru dalam menangani kesehatan mental di Jepang. Gagasan ini muncul dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang meneliti apakah karakter anime dapat membantu meredakan stres, burn out, hingga depresi.

Melalui studi percontohan di Yokohama City University, Francesco dan timnya menggunakan konseling berbasis karakter untuk 20 responden muda berusia 18-29 tahun. Pendekatan tersebut dirancang agar peserta merasa lebih aman, lebih terbuka, dan lebih mudah membicarakan persoalan emosional yang mereka hadapi.

Anime dan kesehatan mental

Francesco Panto mengaku pengalaman pribadinya turut membentuk arah penelitiannya. Saat tumbuh di pedesaan Sisilia, ia sempat menjadikan anime dan manga sebagai tempat berlindung ketika kesulitan menemukan jati diri.

Ia menilai karya-karya populer Jepang itu memberi dukungan emosional yang nyata pada masa remajanya. Pengalaman tersebut membuatnya melihat anime bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium yang dekat dengan emosi manusia.

Dari sana, ia mulai mengembangkan ide bahwa karakter fiksi dapat membantu seseorang memahami kondisi psikologisnya sendiri. Menurutnya, pendekatan yang terasa akrab dan imajinatif bisa mengurangi jarak antara pasien dan proses konseling.

Konseling berbasis karakter

Dalam penelitian ini, peserta tidak menjalani sesi konseling konvensional. Mereka menerima konseling daring dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime dengan suara digital yang dimodifikasi.

Tim peneliti menciptakan enam karakter khusus dengan latar dan kepribadian berbeda. Ada figur keibuan yang tenang namun membawa senjata, hingga karakter pria bergaya pangeran yang digambarkan sangat peka secara emosional.

Setiap karakter terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang dan peserta bebas memilih sosok yang paling mereka rasa cocok. Francesco menyebut setiap karakter diberi perjuangan mental yang spesifik agar terasa relevan, tetapi tetap menarik sebagai tokoh fiksi.

Harapan dari riset ini

Francesco menjelaskan bahwa filter fantasi melalui karakter anime dapat membantu orang merasa lebih nyaman saat berbicara tentang masalah mental. Ia berharap peserta lebih mudah mengenali gejala yang mereka alami tanpa merasa dihakimi.

Studi percontohan selama enam bulan itu juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta. Pemantauan ini dilakukan untuk menilai apakah terapi ala anime benar-benar layak diterapkan dan berpotensi mengurangi gejala depresi.

Meski masih tahap awal, riset ini membuka peluang baru dalam pendekatan kesehatan mental di Jepang. Pendekatan tersebut dinilai menarik karena menggabungkan teknologi, budaya populer, dan kebutuhan terapi yang lebih ramah bagi anak muda.

Stigma bantuan psikologis

Penelitian ini muncul di tengah upaya Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental, termasuk fenomena ikizurasa. Istilah itu merujuk pada orang-orang yang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat.

Mio Ishii, asisten profesor yang turut memimpin proyek, mengatakan banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Ia menilai dibutuhkan pilihan baru agar mereka punya jalan untuk pulih dari tekanan hidup yang dialami.

Ia juga menyoroti stigma yang masih kuat terhadap pencarian bantuan kesehatan mental di Jepang. Data World Economic Forum menunjukkan hingga 2022, hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis untuk masalah kesehatan mental.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!