Anime Dicoba Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 01:43 WIB 3
Anime Dicoba Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini dikenal sebagai hiburan populer di dunia kini diuji untuk peran yang jauh lebih serius di Jepang. Seorang psikiater asal Italia, Francesco Panto, mendorong gagasan bahwa tontonan ini dapat membantu menangani stres, burnout, hingga depresi. Penelitian eksperimental yang ia pimpin dilakukan di Yokohama City University dan melibatkan responden muda dengan gejala depresi. Pendekatan tersebut memadukan konseling psikologis dengan karakter anime sebagai medium yang lebih akrab bagi peserta.

Francesco menjelaskan bahwa ketertarikannya berawal dari pengalaman pribadi saat tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia. Pada masa remaja, anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika ia kesulitan menemukan jati diri. Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi riset mengenai terapi berbasis karakter yang ia sebut sebagai character-based counselling. Proyek ini juga berangkat dari keyakinan bahwa unsur fantasi dapat membuat orang lebih terbuka membicarakan persoalan mental.

Anime dan kesehatan mental

Francesco menilai anime memiliki kedekatan emosional yang sulit ditemukan pada pendekatan konseling biasa. Melalui karakter yang terasa akrab, peserta dapat menurunkan rasa canggung saat membahas kondisi psikologisnya. Ia berpendapat, filter fantasi membuat orang lebih nyaman mengakui beban yang mereka simpan. Dalam pandangannya, kenyamanan awal itu penting untuk membuka jalan menuju pemulihan.

Pandangan tersebut lahir dari pengalaman pribadi yang terbentuk sejak masa remaja. Saat itu, ia merasa terbantu oleh manga dan anime yang memberinya ruang untuk memahami diri sendiri. Ia juga menyinggung bagaimana figur dalam gim dan anime dapat menghadirkan sosok yang kuat tanpa harus mengikuti stereotip gender. Dari pengalaman itu, ia melihat ada potensi besar untuk mengubah hiburan menjadi sarana dukungan emosional.

Penelitian yang dijalankan timnya berlangsung selama enam bulan dan selesai pada Maret 2026. Sebanyak 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun direkrut untuk mengikuti program tersebut. Mereka memiliki gejala depresi dan menerima konseling online dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime. Suara digital yang dimodifikasi juga digunakan agar interaksi terasa lebih sesuai dengan konsep yang dibangun.

Tim peneliti tidak hanya menilai pengalaman subjektif peserta, tetapi juga aspek fisik selama terapi berlangsung. Detak jantung dan pola tidur dipantau untuk melihat apakah pendekatan ini layak diterapkan lebih luas. Langkah itu bertujuan memastikan terapi berbasis karakter tidak sekadar menarik secara visual. Namun, metode ini juga harus mampu memberi dampak nyata terhadap gejala depresi yang dialami peserta.

Terapi berbasis karakter

Dalam proyek ini, tim menciptakan enam karakter khusus yang mewakili ragam kepribadian dan latar emosional. Ada karakter dengan aura keibuan yang tenang, namun tetap membawa senjata, sehingga memberi kesan kuat sekaligus protektif. Ada pula karakter pria bergaya pangeran berjubah yang digambarkan sangat peka secara emosional. Seluruh desain itu terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang.

Peserta diberi kebebasan memilih karakter yang paling sesuai dengan dirinya. Menurut Francesco, pilihan tersebut penting karena hubungan emosional dapat terbentuk lebih cepat ketika peserta merasa cocok. Ia menjelaskan bahwa setiap karakter dibangun dengan perjuangan mental yang spesifik. Pendekatan itu dirancang agar masalah yang dihadapi terasa dekat, tanpa membuat sesi menjadi terlalu berat.

Salah satu karakter, Kuroto Nagi, digambarkan memiliki ciri-ciri bipolar. Karakter lain dibuat dengan latar gangguan kecemasan, trauma pascakejadian traumatis, hingga persoalan terkait konsumsi alkohol. Meski membawa tema serius, tokoh-tokoh itu tetap dirancang menyenangkan dan menarik. Dengan begitu, peserta diharapkan tidak merasa sedang berhadapan dengan diagnosis yang menekan.

Psikolog yang terlibat diperbolehkan memperkenalkan kisah tiap karakter pada awal sesi. Namun, mereka diminta tidak membuat persoalan mental dijelaskan terlalu gamblang. Strategi ini dipilih agar peserta tetap merasa aman dan tidak terintimidasi. Di sisi lain, informasi yang cukup tetap diberikan untuk menjaga arah konseling tetap jelas.

Ragam karakter anime

Keunikan penelitian ini terletak pada cara karakter anime digunakan sebagai jembatan psikologis. Alih-alih menempatkan peserta dalam suasana klinis yang kaku, pendekatan ini mencoba menghadirkan ruang yang lebih ramah. Visual dan suara yang menyerupai anime dipakai untuk menciptakan rasa kedekatan. Hal tersebut diharapkan dapat mendorong keterbukaan sejak awal sesi.

Francesco menilai penerimaan terhadap karakter fiksi dapat membantu peserta menamai emosi yang sulit mereka ungkapkan. Ketika seseorang merasa nyaman, proses konseling berpotensi berlangsung lebih jujur dan efektif. Ia juga meyakini bahwa tokoh fiksi bisa memicu refleksi diri tanpa kesan menghakimi. Karena itu, konsep ini dinilai relevan untuk generasi muda yang akrab dengan budaya pop Jepang.

Riset ini sekaligus membuka ruang baru bagi kajian kesehatan mental di Jepang. Negara tersebut selama ini menghadapi tantangan besar terkait tekanan sosial dan kesulitan mencari bantuan psikologis. Dalam konteks itu, media populer seperti anime dapat menjadi pintu masuk yang lebih mudah diterima. Meski demikian, efektivitasnya tetap harus diuji melalui riset lanjutan yang lebih luas.

Pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana budaya populer bisa bertransformasi menjadi alat intervensi kesehatan. Ketika dikemas dengan cermat, hiburan tidak hanya memberi kesenangan, tetapi juga dukungan emosional. Bagi sebagian orang, karakter fiksi dapat menjadi representasi diri yang selama ini sulit mereka temukan. Dari sana, proses pemulihan bisa dimulai dengan langkah yang terasa lebih manusiawi.

Stigma bantuan psikologis

Penelitian tersebut muncul di tengah persoalan ikizurasa, yaitu istilah untuk menggambarkan orang yang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat. Istilah ini menjadi salah satu cerminan tekanan mental yang dialami sebagian warga Jepang. Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, menyebut banyak anak muda kesulitan bersekolah atau mempertahankan pekerjaan. Kondisi itu menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental tidak bisa dipandang ringan.

Mio menegaskan bahwa tujuan penelitian adalah memberi pilihan baru bagi mereka yang sedang berjuang. Menurutnya, setiap orang membutuhkan jalan yang berbeda untuk pulih dari kesulitan. Karena itu, pendekatan yang lebih dekat dengan budaya sehari-hari dinilai layak dicoba. Dalam kerangka tersebut, anime menjadi salah satu medium yang dianggap memiliki daya jangkau luas.

Stigma terhadap layanan kesehatan mental di Jepang masih menjadi hambatan besar. Data yang dikutip World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang pernah menggunakan layanan konseling psikologis. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara di Eropa dan Amerika Serikat. Fakta tersebut menandakan bahwa akses saja tidak cukup tanpa perubahan sikap sosial.

Di tengah situasi itu, terapi berbasis karakter anime menawarkan harapan sekaligus tantangan baru. Harapan muncul karena pendekatan ini lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda. Tantangannya adalah memastikan efektivitas klinisnya tetap terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika berhasil, inovasi ini bisa menjadi contoh bagaimana budaya populer membantu menjawab persoalan kesehatan mental modern.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!