Alfiber: Daun Nanas Jadi Serat Ekspor Global

Teknologi BRH 13 Mei 2026 08:02 WIB 7
Alfiber: Daun Nanas Jadi Serat Ekspor Global

Alan Sahroni mengubah daun nanas yang selama ini dianggap limbah menjadi peluang bisnis melalui Alfiber. Perusahaannya memproduksi serat daun nanas dan mengekspornya ke Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang untuk keperluan tekstil, fesyen, dan kerajinan. Kisah ini bermula pada 2013, ketika ia mengikuti lomba business plan nasional demi melanjutkan beasiswa Kementerian Perindustrian serta melihat potensi serat daun nanas di Subang.

Meski pasar serat daun nanas pada awalnya tidak dikenal, Alfiber perlahan membangun pasar melalui blog gratis dan kemitraan akademik, hingga akhirnya menembus ekspor pada 2021. Nilai ekspor mencapai 1,2 ton serat ke Singapura dengan harga sekitar Rp187 ribu per kilogram, menandai langkah signifikan bagi petani dan industri lokal. Kisah Alan menunjukkan bagaimana inovasi teknologi dan ekonomi sirkular bisa mengubah limbah menjadi sumber pendapatan.

Inovasi dan Mesin

Karena belum ada mesin sejenis di pasaran, Alan merancang dan membuat mesin dekortikator. Mesin itu dirakit untuk mengubah serat daun nanas menjadi serat siap pakai. Proses pengembangan dimulai setelah ia memenangkan lomba business plan nasional dan difasilitasi untuk prototipe mesin.

Produksi komersial dimulai pada 2013 meski pasar serat daun nanas pada awalnya belum dikenal. Alat dekortikator itu kemudian menjadi inti rantai produksi Alfiber. Pengadaan mesin dan peningkatan kapasitas dilakukan melalui kolaborasi dengan institusi akademik dan mitra industri.

Alan membangun pemasaran dari nol melalui blog gratis dan media nasional. Upaya itu akhirnya menarik perhatian akademisi, mahasiswa, serta media nasional. 'Saya produksi kurang lebih setahun, karena mungkin serat daun nanas ini produk baru dan belum banyak yang mengetahui untuk apa, kendalanya waktu itu adalah pemasarannya'.

Ekspor dan Pasar

Alfiber mulai menembus pasar internasional pada 2021. Ekspor serat daun nanas ke Singapura berhasil dicapai meski pandemi COVID-19 melanda industri. Nilainya mencapai total 1,2 ton serat yang terjual dengan laju harga Rp187 ribu per kilogram.

Permintaan datang dari berbagai pihak, mulai pelaku industri kecil hingga universitas. Pemesanan juga mencakup paket lengkap produksi, termasuk mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin. Permintaan ini memperluas jaringan pemasaran Alfiber di dalam negeri maupun luar negeri.

Keberhasilan ekspor turut memperlihatkan potensi serat daun nanas sebagai bahan baku industri tekstil. Materi tersebut diolah menjadi produk fashion, tekstil, maupun kerajinan sesuai kebutuhan pelanggan. Langkah Alfiber menunjukkan bagaimana limbah pertanian dapat diubah menjadi sumber pendapatan bagi petani.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!