Aisah Ubah Jajanan Betawi Jadi Bisnis Jutaan

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 01:04 WIB 5
Aisah Ubah Jajanan Betawi Jadi Bisnis Jutaan

Aisah memulai usaha sampingan saat masih bekerja sebagai karyawan pabrik pada 2018, dengan tujuan menambah penghasilan keluarga. Dari langkah kecil itu, ia justru membangun bisnis jajanan jadul khas Betawi yang kini dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye dan menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan.

Perjalanan usaha tersebut tidak berlangsung mulus, karena penjualan sempat menurun ketika pandemi COVID-19 membuat banyak warung tutup. Namun, Aisah memilih beradaptasi, mengubah arah bisnis, dan mematenkan merek usahanya pada 2020 melalui pendampingan program kewirausahaan.

Awal Usaha Jajanan Betawi

Aisah mulai berjualan pada 2018 ketika masih bekerja di pabrik spidol. Saat itu, ia menjajakan keripik pedas kepada rekan kerja, lalu menitipkannya di warung-warung sekitar tempat tinggalnya. Dari usaha kecil tersebut, ia mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Aktivitas itu menjadi pintu masuk bagi dirinya untuk belajar membaca peluang pasar.

Berjualan camilan dipilih karena modal yang dibutuhkan relatif kecil dan perputaran barang cukup cepat. Aisah memanfaatkan waktu luang setelah bekerja untuk memproduksi dan menawarkan dagangannya. Strategi sederhana itu sempat berjalan baik sebelum kondisi usaha berubah karena pandemi. Penjualan menurun tajam ketika sejumlah warung pelanggan berhenti beroperasi.

Situasi tersebut membuat Aisah sempat berada dalam posisi sulit, karena sumber pemasukan tambahan mulai tertekan. Alih-alih berhenti, ia mencari arah baru agar usahanya tetap bertahan. Ia lalu memutuskan beralih ke produk yang lebih kuat identitasnya, yakni jajanan khas Betawi. Keputusan itu menjadi titik balik penting dalam perjalanan bisnisnya.

Setelah hampir 20 tahun bekerja di pabrik, Aisah akhirnya memilih fokus pada usaha sendiri. Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena ia ingin menekuni bisnis secara serius dan tidak lagi membagi perhatian dengan pekerjaan utama. Langkah itu menunjukkan perubahan pola pikir dari pekerja menjadi pelaku usaha. Bagi Aisah, keberanian mengambil keputusan menjadi modal penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

Bertransformasi Lewat Identitas

Peralihan dari keripik pedas ke jajanan Betawi dilakukan pada 2020, ketika Aisah mulai serius menekuni usaha melalui program Jakpreneur. Ia juga mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dari proses itu, ia semakin memahami pentingnya merek, legalitas, dan identitas produk. Usahanya pun tidak lagi sekadar jualan rumahan.

Awalnya, usaha tersebut memakai nama Camilan 19. Namun, nama itu dinilai terlalu umum dan kurang memiliki pembeda di pasar. Aisah kemudian mendapat arahan untuk mencari identitas yang lebih kuat dan mudah diingat. Dari situlah lahir nama Betawi Punya Gaye sebagai merek dagang yang digunakan hingga kini.

Nama baru itu menjadi cerminan arah bisnis yang dipilih Aisah, yakni menghadirkan camilan yang dekat dengan budaya Betawi. Produk yang dibuat antara lain kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Ia mengolahnya dengan resep yang dipelajari secara mandiri agar rasa tetap sesuai selera pasar. Proses itu juga memperlihatkan keseriusan dalam menjaga kualitas produk.

Aisah mengaku memiliki bekal dasar membuat kue sejak kecil karena kerap membantu orang tua. Pengalaman lama itu kemudian ia jadikan modal untuk mengembangkan usaha secara lebih terarah. Ia tidak hanya mengandalkan nostalgia, tetapi juga konsistensi dalam memproduksi dan memasarkan barang. Kombinasi keduanya membuat bisnisnya memiliki nilai cerita yang kuat.

Omzet Naik Berkat Adaptasi

Perubahan arah bisnis membawa dampak positif terhadap penjualan Aisah. Produk jajanan jadul khas Betawi dinilai lebih unik dan memiliki daya tarik tersendiri bagi pembeli. Identitas budaya membuat barang dagangannya tidak mudah disamakan dengan camilan pada umumnya. Kondisi tersebut membantu memperkuat posisi usahanya di pasar UMKM.

Meski sempat tertekan saat pandemi, Aisah tidak berhenti berinovasi. Ia tetap mencari cara agar produk bisa dikenal lebih luas dan diterima oleh berbagai kalangan. Pendekatan itu membuat usahanya kembali bergerak setelah sebelumnya sempat melambat. Ketekunan menjadi faktor utama yang menjaga bisnis tetap hidup.

Keikutsertaannya dalam program pendampingan usaha juga memberi tambahan wawasan penting. Aisah belajar mengenai pengelolaan merek, pengemasan, hingga pengembangan usaha yang lebih rapi. Pendampingan seperti ini membantu pelaku UMKM naik kelas secara bertahap. Dalam kasus Aisah, dukungan itu memperkuat fondasi bisnis yang sedang dibangun.

Perjalanan Aisah menunjukkan bahwa usaha sampingan bisa berkembang menjadi sumber penghasilan utama jika dikelola dengan disiplin. Dari penjual keripik pedas di lingkungan kerja, ia berubah menjadi produsen jajanan Betawi dengan merek sendiri. Transformasi tersebut terjadi berkat keberanian, adaptasi, dan keinginan untuk terus belajar. Kisahnya menjadi contoh bahwa usaha kecil dapat tumbuh besar ketika dijalankan dengan strategi yang tepat.

Pelajaran Bagi Pelaku UMKM

Kisah Aisah memberi pelajaran bahwa perubahan pasar harus dihadapi dengan penyesuaian, bukan penolakan. Ketika produk awal tidak lagi berjalan baik, ia memilih mencari peluang baru yang lebih relevan. Langkah itu menunjukkan pentingnya fleksibilitas dalam bisnis. Pelaku UMKM perlu memahami bahwa arah usaha dapat berubah sesuai kebutuhan konsumen.

Selain itu, legalitas merek menjadi bagian penting dari pengembangan usaha. Dengan mengikuti pelatihan HAKI, Aisah memiliki identitas usaha yang lebih kuat dan terlindungi. Hal ini membantu produk lebih mudah dikenali dan memberi nilai tambah di mata pembeli. Dalam persaingan pasar, merek yang jelas sering menjadi pembeda utama.

Pengalaman Aisah juga menegaskan bahwa warisan kuliner tradisional masih memiliki pasar yang menjanjikan. Jajanan khas daerah dapat menjadi produk bernilai ekonomi jika dikemas dengan baik. Unsur budaya memberi keunikan yang sulit ditiru oleh produk massal. Karena itu, produk lokal perlu terus didorong agar mampu bersaing secara modern.

Dari seorang karyawan pabrik hingga menjadi pelaku usaha mandiri, perjalanan Aisah memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari awal yang besar. Usaha kecil, jika ditekuni dengan sabar, dapat berkembang menjadi bisnis yang stabil dan menguntungkan. Semangatnya menjadi gambaran bahwa UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh. Yang dibutuhkan adalah ketekunan, keberanian, dan kemampuan membaca kesempatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!