Aisah Sukses Bangun Betawi Punya Gaye dari Jualan Camilan

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 14:38 WIB 3
Aisah Sukses Bangun Betawi Punya Gaye dari Jualan Camilan

Aisah, mantan karyawan pabrik, memulai usaha sampingan untuk menambah penghasilan saat masih bekerja. Pilihan itu kemudian berkembang menjadi bisnis camilan tradisional khas Betawi yang kini dikenal dengan nama Betawi Punya Gaye. Dari usaha kecil yang semula dijajakan ke teman kerja dan warung sekitar, ia berhasil membangun omzet jutaan rupiah setiap bulan. Kisahnya menjadi contoh bahwa ketekunan, adaptasi, dan keberanian mengubah arah usaha dapat membuka peluang yang lebih besar.

Usaha tersebut lahir pada 2020 setelah Aisah melihat peluang dari jajanan jadul seperti kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Perjalanan itu tidak mudah, karena bisnis pertamanya sempat terhenti ketika penjualan keripik menurun selama pandemi COVID-19. Namun, keputusan untuk beralih ke produk yang lebih punya identitas budaya justru menjadi titik balik penting. Dari situ, Aisah semakin serius menekuni usaha kuliner rumahan yang kini berdaya saing.

Betawi Punya Gaye Tumbuh

Aisah mulai berjualan pada 2018 saat masih bekerja di pabrik spidol. Saat itu, ia memilih keripik pedas sebagai produk awal karena mudah dipasarkan dan cepat diproduksi. Barang dagangannya dibawa ke tempat kerja, lalu ditawarkan ke rekan sesama karyawan dan dititipkan ke warung. Dari cara sederhana itu, ia bisa mengantongi pemasukan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan.

Meski sempat berjalan baik, usaha keripik yang dijalankan Aisah kemudian terhambat. Banyak warung tutup dan permintaan turun ketika pandemi melanda, sehingga penjualan ikut melemah. Kondisi itu membuatnya harus mencari jalan baru agar usaha tetap bertahan. Ia akhirnya melihat bahwa camilan khas Betawi memiliki nilai jual yang lebih kuat dan berbeda dari produk sebelumnya.

Peralihan bisnis itu menjadi langkah besar bagi Aisah karena ia harus meninggalkan pekerjaan yang sudah digeluti hampir 20 tahun. Keputusan itu diambil setelah ia merasa perlu fokus penuh pada usaha yang sedang dibangun. Dengan pengalaman panjang di dunia kerja, ia memilih mengalihkan energi ke sektor usaha yang lebih fleksibel. Langkah tersebut menjadi awal dari lahirnya merek Betawi Punya Gaye.

Nama Betawi Punya Gaye dipilih untuk menegaskan identitas produk yang lekat dengan budaya Jakarta. Melalui merek itu, Aisah menghadirkan camilan yang tidak sekadar dijual sebagai makanan ringan, tetapi juga membawa cerita tradisi. Strategi tersebut membuat produknya lebih mudah dikenali di pasar. Identitas yang kuat menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan usaha mikro seperti miliknya.

Peralihan Menuju Camilan Betawi

Setelah usaha keripik menurun, Aisah mulai bereksperimen dengan aneka jajanan jadul. Ia memilih kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang karena produk tersebut punya pasar tersendiri. Selain itu, makanan tersebut dekat dengan memori banyak orang dan cocok dijual sebagai camilan keluarga. Dengan pilihan itu, usahanya kembali memiliki arah yang lebih jelas.

Aisah mengaku resep yang digunakan tidak datang dari pelatihan formal, melainkan hasil belajar mandiri. Ia mengembangkan formula rasa secara autodidak sampai menemukan komposisi yang pas. Pengalaman membantu orang tua membuat kue sejak kecil ikut menjadi bekal penting dalam proses tersebut. Dari kebiasaan itu, ia memahami dasar rasa, tekstur, dan teknik produksi.

Transformasi usaha juga menunjukkan kemampuan Aisah membaca perubahan pasar. Ketika produk sebelumnya kurang diminati, ia tidak berhenti, melainkan menyesuaikan jenis dagangan dengan kebutuhan konsumen. Perubahan itu membantu usahanya keluar dari masa sulit. Keputusan berani untuk berinovasi menjadi kunci agar usaha tetap hidup di tengah situasi yang tidak pasti.

Bagi Aisah, camilan Betawi bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional. Ia melihat ada peluang ekonomi dari produk yang memiliki akar budaya kuat. Karena itu, ia terus menjaga kualitas agar pembeli kembali memesan. Pendekatan tersebut membuat usahanya tidak hanya mengejar penjualan, tetapi juga membangun nilai jangka panjang.

Legalitas dan HAKI Usaha

Pada 2020, Aisah mulai menekuni usahanya dengan lebih serius setelah bergabung ke Jakpreneur. Ia memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti bimbingan teknis pembuatan Hak Kekayaan Intelektual dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Program itu membantunya memahami pentingnya perlindungan merek dalam dunia usaha. Legalitas menjadi langkah penting untuk menaikkan kelas bisnis mikro.

Sebelum menggunakan nama Betawi Punya Gaye, Aisah sempat memakai nama Camilan 19. Namun, nama itu dinilai terlalu umum dan kurang kuat sebagai identitas dagang. Ia kemudian diarahkan mencari nama baru yang lebih khas dan mudah diingat. Dari proses itulah lahir merek yang kini menjadi pembeda utama produknya.

Langkah mendaftarkan HAKI memberi manfaat lebih besar daripada sekadar perlindungan hukum. Merek yang jelas membuat usaha terlihat lebih profesional dan dipercaya pasar. Bagi pelaku UMKM, kejelasan identitas sering kali menjadi pintu masuk untuk memperluas jaringan penjualan. Karena itu, proses legalisasi tidak bisa dipandang sebagai urusan administratif semata.

Aisah menilai keberadaan merek yang kuat membantu dirinya lebih percaya diri memasarkan produk. Ia dapat menampilkan usaha dengan identitas yang konsisten di berbagai kanal penjualan. Hal itu juga memudahkan saat mengikuti pembinaan maupun promosi. Dalam persaingan usaha kuliner, nama yang khas menjadi aset yang tidak kalah penting dari rasa.

Dukungan Rumah BUMN BRI

Perkembangan usaha Aisah turut ditopang oleh pendampingan dari Rumah BUMN BRI. Di sana, ia mendapat ruang untuk belajar soal pengembangan usaha dan peningkatan kualitas produk. Fasilitas pembinaan seperti ini membantu pelaku UMKM memahami kebutuhan pasar secara lebih luas. Dukungan semacam itu penting agar usaha rumahan dapat tumbuh lebih terstruktur.

Melalui pembinaan, Aisah memperoleh wawasan baru tentang pengelolaan bisnis yang lebih rapi. Ia tidak lagi hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada identitas merek dan keberlanjutan usaha. Pendekatan tersebut membantu usaha kecil naik kelas secara bertahap. Bagi Aisah, pembelajaran itu menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun bisnis mandiri.

Kisah Aisah menunjukkan bahwa usaha sampingan bisa berkembang besar jika dikelola dengan konsisten. Ia memulai dari jualan kecil, lalu berani beralih saat pasar berubah. Keputusan untuk fokus penuh pada usaha menjadi salah satu titik balik paling menentukan. Dari sana, Betawi Punya Gaye tumbuh sebagai merek yang lebih dikenal.

Perjalanan Aisah juga menegaskan bahwa ketekunan dan kemampuan beradaptasi menjadi modal utama pelaku usaha kecil. Dengan produk yang kuat, legalitas yang jelas, dan pendampingan yang tepat, UMKM berpeluang bertahan lebih lama. Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin memulai usaha dari nol. Aisah membuktikan bahwa langkah kecil dapat berujung pada pencapaian besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!